Refleksi Kebencanaan dan Etika Liputan di Tengah Patahan

waktu baca 2 menit
Pameran foto PFI Palu memperingati 7 tahun pasca bencana. (foto : Dok PFI Palu).

Diksi.net, Palu – Pewarta Foto Indonesia (PFI) Palu menggelar diskusi jurnalistik bertema kebencanaan dan etika liputan di sela pameran foto “Asa di Atas Patahan” di Palu Grand Mall, Senin (15/9). Acara ini menghadirkan karya 25 pewarta foto dari dalam dan luar negeri, termasuk Malaysia, serta diikuti mahasiswa, komunitas fotografi, lembaga pers mahasiswa, dan organisasi pers.

Pemateri Jefrianto dari Komunitas Historia Sulteng menekankan pentingnya memahami sejarah kebencanaan di wilayah rawan seperti Palu. Ia mengingatkan bahwa ketidaktahuan masyarakat terhadap bencana masa lalu, seperti tsunami sebelum peristiwa 28 September 2018, berkontribusi pada kesiapan yang minim saat bencana terjadi.

BACA JUGA :  Polsek Palu Barat dan Kelurahan, Jaring Pasangan Bukan Suami Istri

“Hidup di atas patahan menuntut kita memahami lingkungan tempat tinggal. Tanpa belajar dari sejarah, kita berisiko mengulang nasib tragis para korban,” ujar Jefrianto.

Ia memuji inisiatif PFI Palu menggelar pameran foto sebagai pengingat kolektif. “Foto-foto ini bukan untuk menakuti, tetapi untuk membangun kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat agar tidak lagi gagap menghadapi bencana,” tambahnya.

Pewarta foto senior ANTARA, Basri Marzuki, berbagi pandangan tentang etika dan teknik liputan kebencanaan. Ia menegaskan bahwa liputan bencana harus lebih dari sekadar informasi—harus mampu membangkitkan empati dan menarik perhatian publik terhadap nasib korban.

BACA JUGA :  PFI Palu Siap Gelar Pameran Foto ‘Asa di Atas Patahan’

“Liputan bencana bermakna jika bisa mendorong empati dan perhatian untuk membantu korban, bukan hanya mengejar sensasi,” kata Basri.

Ia menyoroti praktik tidak etis di kalangan pewarta, seperti mengeksploitasi kesedihan korban atau mempublikasikan gambar tanpa persetujuan subjek, terutama di ruang pribadi. “Ada sisi lain dari bencana yang layak didokumentasikan, seperti ketangguhan dan harapan, tanpa menghilangkan martabat subjek foto,” imbuhnya.

Basri berpesan agar pewarta foto selalu menjaga martabat subjek dalam setiap karya jurnalistik. “Karya foto harus menghormati subjek, bukan menjadikan mereka sekadar objek,” tegasnya.

BACA JUGA :  Penjelasan Pemkot dan DLH Mengenai Denda Saat Membakar Sampah

Pameran “Asa di Atas Patahan” menjadi bagian dari upaya PFI Palu untuk mengenang bencana sekaligus meningkatkan kesadaran publik. Karya-karya yang dipamerkan tidak hanya mencerminkan realitas kebencanaan, tetapi juga menggambarkan semangat kebangkitan dan ketangguhan masyarakat Palu pasca-bencana.

Diskusi ini diharapkan menjadi wadah bagi jurnalis, khususnya pewarta foto, untuk memperdalam pemahaman tentang etika jurnalistik dan peran media dalam membangun narasi kebencanaan yang bertanggung jawab. Acara ini juga memperkuat komitmen PFI Palu dalam memajukan jurnalisme visual yang bermartabat dan berdampak positif.

Moh. Sharfin
Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *