Peringati May Day, BURASA Layangkan Tuntutan ke Gubernur Sulteng 

waktu baca 2 menit
Massa Aksi saat menyampaikan tututan di depan kantor Gubernur Sulawesi Tengah. (foto : Andi Syaifullah).

Diksi.net, Palu – Ratusan massa dari Aliansi Buruh & Rakyat Berkuasa (BURASA) menggelar aksi damai memperingati May Day 2026 di depan Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, Jumat (1/5/2026). Aksi yang melibatkan elemen buruh, mahasiswa, dan organisasi masyarakat sipil menjadi wadah penyampaian berbagai tuntutan perlindungan hak pekerja di tengah maraknya industri nikel di Sulteng

Koordinator Lapangan Aliansi BURASA, Aziz, menyampaikan bahwa aksi tahun ini mengangkat beragam isu krusial ketenagakerjaan. Mulai dari upah layak, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), penghapusan sistem outsourcing, hingga pemenuhan hak-hak buruh perempuan di tempat kerja.

BACA JUGA :  Gubernur dan Kapolda Sulteng Tinjau PSU Pilkada di Banggai

“Kita ada beberapa tuntutan, salah satunya itu pasal Outsourcing. Kita menginginkan Gubernur melakukan statement yang jelas terhadap proses-proses Outsourcing,” tegas Aziz saat orasi.

Selain itu, aliansi juga menuntut penyediaan ruang laktasi yang layak di kawasan industri serta pemenuhan hak cuti hamil dan cuti melahirkan bagi karyawan perempuan. Menurut mereka, hak buruh perempuan masih sering terabaikan di berbagai perusahaan.

“Buruh perempuan sering kali menjadi kelompok yang paling rentan. Mereka berhak mendapatkan hak dasar yang harusnya mampu dipenuhi oleh perusahaan,” tambah Aziz.

BACA JUGA :  Project InnerSpace Rilis Laporan Potensi Besar Panas Bumi Indonesia

Aliansi BURASA juga menyoroti lemahnya penegakan K3 di Sulawesi Tengah. Mereka menyayangkan minimnya respons pemerintah atas kasus kecelakaan kerja yang terus berulang. “Di tahun 2025 kemarin YTM mencatat setidaknya ada 25 kasus kecelakaan kerja,” ujar Aziz.

Isu lain yang diangkat adalah maraknya praktik union busting di Sulawesi Tengah, yang dinilai melemahkan posisi tawar pekerja. 

Aziz menambahkan bahwa aksi ini bukan hanya seremonial semata, melainkan bentuk konsistensi perjuangan buruh dan rakyat untuk mendorong perubahan kebijakan yang lebih berpihak kepada pekerja.

BACA JUGA :  APSIKU Sesalkan Lemahnya Pengawasan PMK di Perbatasan 

“May Day bukan hanya hari libur, tapi momentum perlawanan. Kami akan terus mengawal agar tuntutan-tuntutan ini tidak hanya didengar, tetapi juga ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah,” pungkasnya.

Menjelang magrib, para demonstran juga menyatakan mosi tidak percaya kepada Gubernur Sulawesi Tengah yang tidak kunjung menemui aksi massa. Para demonstran juga memberikan waktu 2×24 kepada gubernur Sulteng untuk menyikapi setiap tuntutannya.

Andi Syaifullah
Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *