Sheep Indonesia Gelar Dialog Jurnalis Bangun Kesadaran Publik
Diksi.net, Palu – Yayasan Sheep Indonesia mendorong peran strategis media dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pengurangan risiko bencana (PRB) dan adaptasi perubahan iklim. Upaya ini diwujudkan melalui Dialog Jurnalis bertema “Menguatkan Narasi Media tentang Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim di Lanskap Palu-Sigi-Donggala” yang digelar di Kota Palu, Sabtu (13/6/2026).
Kegiatan yang diikuti sekitar 25 jurnalis dari berbagai platform mulai dari media online, cetak, radio, televisi, hingga media komunitas—ini bertujuan meningkatkan kapasitas awak media dalam meliput isu kebencanaan dan perubahan iklim secara lebih mendalam dan berperspektif mitigasi.
Area Manager Yayasan Sheep Indonesia Sulawesi Tengah, Masturidho, menyatakan bahwa pemahaman yang kuat bagi jurnalis sangat penting agar pemberitaan yang dihasilkan tidak hanya informatif, tetapi juga mampu membangun kesadaran publik.
“Kami ingin memberikan pemahaman bersama kepada teman-teman jurnalis terkait pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim sebagai bahan untuk menyusun narasi di media,” ujar Masturidho usai kegiatan.
Menurutnya, media memiliki peran krusial dalam membentuk persepsi masyarakat terhadap ancaman bencana yang semakin nyata akibat perubahan iklim. Selain itu, dialog ini diharapkan dapat menjadi embrio terbentuknya jejaring jurnalis yang fokus pada isu lingkungan dan kebencanaan di Sulawesi Tengah.
Yayasan Sheep Indonesia juga menyiapkan program fellowship bagi jurnalis untuk mendukung peliputan mendalam mengenai mitigasi bencana dan adaptasi perubahan iklim, khususnya di Daerah Aliran Sungai (DAS) Palu dan kawasan pesisir pantai barat Donggala.
Masturidho menjelaskan bahwa program ini menggunakan pendekatan berbasis lanskap karena keterkaitan erat antara wilayah hulu dan hilir dalam satu ekosistem DAS.
“Bencana hidrometeorologi yang terjadi di Sigi sangat memengaruhi kondisi di Palu. Apa yang terjadi di wilayah hulu akan berdampak pada wilayah hilir,” tegasnya.
Ia memberikan contoh fenomena genangan air yang kerap terjadi di kawasan Besusu Barat dan Lere, Kota Palu. Saat debit Sungai Palu meningkat bersamaan dengan pasang air laut, air kerap membanjiri permukiman warga. Kondisi ini tidak lepas dari deforestasi di wilayah hulu yang menyebabkan peningkatan sedimentasi dan memperbesar risiko banjir di hilir.
“Penanganan risiko bencana harus dilakukan secara terintegrasi mulai dari hulu, tengah, hingga hilir dengan pendekatan yang sesuai karakteristik masing-masing kawasan,” tambah Masturidho.
Selain penguatan kapasitas media, Yayasan Sheep Indonesia juga aktif menjalankan berbagai program pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim di Sulawesi Tengah.
Program tersebut meliputi penguatan kebijakan, pembentukan forum kolaborasi lintas sektor, penguatan kelompok kerja organisasi masyarakat sipil, serta peningkatan kapasitas masyarakat di tingkat tapak.
“Kami melakukan pelatihan kepada masyarakat, penguatan sistem peringatan dini (Early Warning System/EWS), serta rehabilitasi kawasan melalui penanaman pohon di wilayah DAS maupun kawasan pesisir sesuai habitatnya,” pungkas Masturidho.
