Saat Kelapa Jadi Alat Ukur Kesetaraan, Cerita di Balik Sabun Buatan Perempuan Togean
Diksi.net, Tojo Una-Una – Tiga hal yang menjadi alasan sebuah usaha kecil di pesisir Togean berdiri, emisi bahan kimia rumah tangga dunia yang menurut catatan United Nations Environment Program tahun 2023 mencapai 310 kilogram per detik, pendapatan warga desa yang menurut riset Bank Dunia tahun 2020 tertinggal 70 persen dibanding kota, dan upah perempuan yang menurut riset PROSPERA tahun 2020 masih 25 persen lebih rendah dari laki-laki. Dari tiga persoalan itulah Naturale, usaha perawatan tubuh berbahan kelapa asal Kepulauan Togean, menyusun alasannya untuk ada.
Jauh dari hiruk-pikuk kota, jawaban atas tiga persoalan itu justru tumbuh di sebuah bangunan produksi sederhana di Desa Tumbulawa, Kecamatan Batudaka. Sebuah desa yang hanya bisa dicapai lewat kombinasi speedboat, dan perahu kecil sebelum melalui jalan menanjak dari bibir pantai.
Pabrik yang Berjalan Tanpa Listrik PLN
Tidak ada cerobong asap atau mesin bising di pabrik ini. Naturale mengandalkan panel surya berkapasitas 3.000 watt untuk menggerakkan seluruh proses produksinya, mampu menghasilkan hingga 600 produk per hari. Air yang dipakai berasal dari tampungan hujan yang disaring, dan seluruh lininya telah mengantongi sertifikasi BPOM serta halal.
Setiap harinya, dari pabrik kecil ini lahir sekitar 130 hingga 200 batang sabun. Hampir 90 persen bahan bakunya adalah minyak kelapa dari kebun milik pendiri usaha di Ampana dan petani mitra di sekitar pabrik, yang kemudian dipadukan dengan kunyit, rumput laut, minyak nilam, dan minyak jeruk untuk menghasilkan beragam varian, mulai dari sabun batang, sampo, kondisioner, sabun cair, hingga pelembap tubuh.
Manajer Operasional Naturale, Hannah, menyebut kerja sama dengan Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Tengah turut membuka jalan bagi produk-produk itu menembus pasar yang lebih luas, mulai dari pendampingan jaringan pemasaran hingga penguatan desain kemasan.
Satu Nama, Tiga Wajah Usaha
Usaha yang semula bernama Togean Naturalle ini kini telah bertransformasi menjadi tiga lini yang saling melengkapi. Togean Naturalē melayani pasar ritel nasional lewat swalayan, toko, dan butik di berbagai kota dengan berbagai segmen. Bali Naturalē mengambil jalan yang berbeda. Alih-alih hanya mengandalkan bahan baku kebun, lini ini menerapkan model produksi regeneratif dengan mengubah limbah dari bisnis lain menjadi produk baru, mengubah limbah minyak jelantah dan cangkang telur menjadi sabun cuci tangan, lilin, hingga tatakan gelas.
Sementara Raja Ampat Naturalē menyasar segmen yang lebih spesifik: perlengkapan kamar hotel dan resor, mulai dari sabun, sampo, hingga kondisioner, yang dijual dalam skema pembelian grosir maupun dengan label khusus milik klien ( white labeling ) — model bisnis yang cocok dengan karakter Raja Ampat sebagai destinasi wisata premium dengan banyak ulasan kelas atas.
Per Maret 2026, jejaring ini telah menembus lebih dari 120 toko dan hotel di tiga lokasi, memasarkan lebih beragam varian produk yang seluruhnya dikerjakan oleh lebih dari 30 perempuan.
Angka yang Berwajah Manusia
Di balik statistik itu, ada perempuan-perempuan seperti Tutun. Di usia 45 tahun, ia menjadi salah satu dari beberapa perempuan yang menangani produksi harian di Tumbulawa, sekaligus tinggal bersama suaminya di areal pabrik untuk menjaganya.
Rutinitasnya kini memungkinkannya menyewa tempat tinggal keperluan sekolah anaknya di Ampana. Sebuah pencapaian kecil yang menurutnya sulit ia bayangkan sebelum bekerja di pabrik itu.
Kisah Tutun bukan satu-satunya. Di Sulawesi, sejumlah perempuan memproduksi hingga ratusan batang sabun per hari, sementara yang lain fokus pada sampo, sabun cair, dan kondisioner setiap harinya. Di Papua, tim memproduksi minyak kelapa sekaligus memproduksi losion tubuh dan penakal nyamuk alami. Sementara di Bali, tim yang lebih ramping menangani produksi minyak tubuh sekaligus merangkap fungsi penjualan, administrasi, hingga keuangan.
Total, lebih dari 30 perempuan kini bekerja di pabrik maupun galeri penjualan yang tersebar di Togean, Ampana, Bali, dan Raja Ampat, sebuah rantai kerja yang membentang dari dapur produksi kecil di pesisir hingga etalase toko di kawasan wisata kelas dunia.
Dari Kebun Kelapa ke Rak Toko Nasional
Yang membuat model usaha ini menarik bukan hanya soal bahan baku alami, melainkan bagaimana ia menautkan tiga isu sekaligus dalam satu rantai produksi: mengurangi limbah kimia dengan bahan alami dan kemasan yang dapat terurai, mendongkrak nilai tambah hasil kebun kelapa warga desa, sekaligus membuka lapangan kerja khusus bagi perempuan di wilayah yang jauh dari pusat ekonomi.
Model itu pula yang mengantar produk buatan tangan dari pulau kecil di Teluk Tomini ini menembus rak-rak toko di Bali, hingga menjangkau pasar wisata premium di Raja Ampat, dua kawasan yang secara geografis terpisah ratusan kilometer dari tempat sabun-sabun itu pertama kali dituang ke cetakannya.
Bagi Naturale, misi yang tertulis dalam profil usahanya terdengar sederhana: membuka lapangan kerja bagi perempuan desa, meningkatkan nilai produk pertanian lokal, memperkuat ekonomi desa lewat pariwisata berkelanjutan, mengurangi polusi, sekaligus memperluas kesadaran akan alternatif alami. Namun di Tumbulawa, misi itu punya bentuk yang jauh lebih konkret. Ia berwujud panel surya yang berjemur di atap pabrik, tampungan air hujan yang mengaliri proses produksi, serta tangan-tangan perempuan yang setiap pagi menuang minyak kelapa ke dalam cetakan sabun. Dari titik kecil di lereng pulau itulah, persoalan-persoalan besar seperti polusi kimia global, pertemuan desa-kota, dan ketimpangan upah perempuan diterjemahkan menjadi sesuatu yang jauh lebih sederhana untuk dipahami: sebatang sabun yang bisa digenggam, dipakai, dan dijual hingga ke pulau-pulau lain di Indonesia.
