Kisah Baru Eks Napiter Poso Dari MIT ke Kehidupan Produktif
Diksi.net, Poso – Sarifudin, yang lebih dikenal dengan nama Udin, pernah menjadi bagian dari kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso. Kini, ia menjalani kehidupan baru sebagai pekerja produktif di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, setelah menjalani hukuman penjara dan program deradikalisasi. Kisahnya menjadi inspirasi tentang bagaimana seseorang dapat bangkit dari masa lalu kelam menuju kehidupan yang lebih baik.
Pada tahun 2020, Udin ditangkap karena keterlibatannya dalam tindak pidana terorisme bersama kelompok MIT Poso. Berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Timur Nomor 20/PID/SUS ANAK/2020, ia divonis 1 tahun 10 bulan penjara. Hukuman tersebut dijalaninya hingga ia dibebaskan dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kota Palu pada 3 Oktober 2022, sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor PAS-1526.PK.05.09 tahun 2022 tertanggal 30 September 2022.
Hukuman tersebut dijalaninya hingga ia dibebaskan dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kota Palu pada 3 Oktober 2022, sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor PAS-1526.PK.05.09 tahun 2022 tertanggal 30 September 2022.
Kini, Udin telah memulai babak baru dalam hidupnya. Ia bekerja sebagai penyortir barang di salah satu perusahaan logistik, bertugas memilah barang berdasarkan wilayah pengiriman. Selain itu, ia juga menjalankan usaha sampingan dengan menjual BBM jenis solar sekali dalam seminggu. Pekerjaan ini menjadi langkah nyata baginya untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan berkontribusi pada masyarakat.
Dalam wawancara baru-baru ini, Udin menyampaikan rasa terima kasih kepada Satgas Operasi Madago Raya yang telah menjalin silaturahmi dengannya. “Saya berharap komunikasi ini terus terjaga untuk mempererat kerja sama dalam menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di Poso,” ujarnya. Ia juga menegaskan komitmennya untuk tidak kembali ke jalan yang salah.
Udin mengakui bahwa keterlibatannya dengan kelompok MIT Poso adalah kesalahan besar. Ia menjadikan pengalaman pahit tersebut sebagai pelajaran berharga untuk tidak lagi terjebak dalam ajakan yang dapat merugikan diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. “Saya ingin fokus menata hidup dan bekerja untuk keluarga,” katanya.
Tim Satgas Operasi Madago Raya turut memberikan arahan agar Udin terus menjalani kehidupan yang produktif. Mereka juga mendorongnya untuk mendukung upaya kepolisian dalam menjaga keamanan di Poso, khususnya dalam mencegah penyebaran paham radikal, intoleransi, dan terorisme, terutama di kalangan anak muda di Kecamatan Poso Kota.
Kisah Udin menjadi contoh nyata bahwa reintegrasi sosial bagi eks narapidana terorisme (napiter) dimungkinkan melalui pendekatan yang tepat, seperti deradikalisasi dan dukungan dari berbagai pihak. Satgas Operasi Madago Raya terus berupaya menciptakan situasi Kamtibmas yang kondusif di Poso, dengan melibatkan masyarakat, termasuk eks napiter, dalam menjaga stabilitas keamanan.
Dengan semangat baru, Udin kini bertekad untuk terus berkontribusi positif bagi lingkungannya. Kisahnya menjadi pengingat bahwa masa lalu tidak harus menentukan masa depan, selama ada niat untuk berubah dan dukungan untuk bangkit kembali.
