Jaringan Irigasi Gumbasa Akan Aliri Ribuan Hektar Lahan Masyarakat

waktu baca 2 menit
Sektor pertanian mendapatkan berita baikdi awal tahun 2024. Dalam waktu dekat sistem pengairan dapat digunakan untuk mengaliri pertanian masyarakat di 9 desa di Kabupaten Sigi. (Foto : istimewa).

Diksi.net, Palu – Sektor pertanian mendapatkan berita baikdi awal tahun 2024. Dalam waktu dekat sistem pengairan dapat digunakan untuk mengaliri pertanian masyarakat di 9 desa di Kabupaten Sigi.

Humas PT PP, Hadi Prayitno menjelaskan irigasi yang telah dibangun akan mengaliri daerah persawahan dan perkebunan masyarakat yang berada di Desa Lompio, Langaleso, Bora, Maranata, Silue, Sidera, Pangale, Jono dan Kota Arindau.

“Untuk pembangunan memang telah kita rampungkan secara keseluruhan, namun saat ini masih dalam pemeriharaan dan pengecekan fungsi di beberapa titik. Jika keseluruhan telah rampung maka akan digunakan dalam waktu dekat,” ungkap Hadi, Sabtu, (02/02/2024).

BACA JUGA :  Dugaan Kekerasan di SMP Negeri 4 Tojo Terlapor Ditetapkan Sebagai Tersangka

Ia menambahkan, jika pengerjaan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III Palu telah rampung dikerjakan pengairan yang dibangun bisa mengaliri ribuan hektar persawahan dan perkebunan masyarakat.

“Sebelumnya kan irigasi ini mengalami kerusakan dan tidak dapat digunakan akibat bencana alam lalu sehingga lahan pertanian, persawahan tidak lagi mampu digunakan lantaran tidak memiliki sumber air,” lanjutnya.

BACA JUGA :  Ponpes NW Auma Dukung Ops Madago Raya Cegah Radikalisme

Di lain sisi, Manajemen PT Pembangunan Perumahan (PP), Adrian Prasetyo menuturkan pekerjaan proyek jaringan irigasi Gumbasa Paket III yang menjadi tanggung jawab pihaknya telah rampung, hanya tersisa pemeliharaan di beberapa titik.

“Dalam waktu dekat, kami usahakan segera beroperasi. Sejauh ini, kami telah nelakukan uji coba sebanyak tiga kali,” tuturnya.

Ia melanjutkan, irigasi tersebut memang masih dalam masa pemiliharaan selama kurang lebih satu tahun. Hal ini dimanfaatkan untuk merapikan atau membenahi beberapa kekurangan yang ada.

BACA JUGA :  PT CPM Intervensi Anak Stunting di Kecamatan Mantikulore

Menurutnya, selama proses pembangunan ditemukan sejumlah kendala dan segera harus diselesaikan, misalnya dari perencanaan kadang kondisi di lapangan tidak sesuai dan harus menyesuaikan lagi.

“Kontur tanah yang berubah pasca bencana apalagi terjadi likuefaksi, dimana hal itu terkadang tidak sesuai perencanaan dan harus diubah. Harus dikonsultasikan lagi ke konsultan dan Kementerian Pekerjaan Umum dan butuh waktu, tapi semuanya bisa berjalan dengan baik,”tutup Adrian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *