El Nino di Sulteng Tidak Separah Kalimantan dan Sumatera

waktu baca 2 menit
Kepala BMKG Stasiun Pemantauan Atmosfer Global Lore Lindu Bariri-Palu, Asep Firman. (Foto : ist).

Diksi.net, Palu – El Nino adalah sebuah fenomena iklim yang terjadi ketika suhu menjadi lebih panas dari biasanya. Fenomena ini memiliki dampak global yang signifikan pada cuaca hingga lingkungan. Salah satu efek El Nino adalah perubahan pola curah hujan di berbagai belahan dunia.

“Untuk wilayah Sulawesi Tengah memang sudah mulai berdampak, namun masih dalam level kuning dan belum begitu intensif.” Kepala BMKG Stasiun Pemantauan Atmosfer Global Lore Lindu Bariri-Palu, Asep Firman, Jumat (11/08/2023).

BACA JUGA :  El Nino Berkepanjangan, Produktivitas Pangan Masih Terus Bertumbuh

Dari hasil pantauan untuk Sulawesi Tengah ada beberapa titik yang telah menjadi level kuning. Hal ini merupakan dampak dari musim kemarau, juga dari hasil pembakaran sisa jerami masyarakat.

Asep mengatakan, merujuk pada peristiwa el nino 2015 dan 2019 lalu titik hot spot di Sulteng tidak sepanas Kalimantan dan Sumatera. Karena Kalimantan dan Sumatera lebih banyak lahan perkebunan yang dibakar juga banyak pembukaan lahan.

BACA JUGA :  KKI Sulteng Laksanakan Long March dan Ujian Kenaikan Tingkat

“Biasanya api yang digunakan untuk membakar jerami tidak lagi dapat dikontrol sehingga menjadi salah satu penyebab kebakaran hutan,” ungkap Asep.

“alhamdulillah, untuk Sulawesi Tengah sudah dua kali El Nino tidak pernah terpantau kebakaran hutan hingga menimbulkan kabut asap,” jelasnya

Lebih lanjut, asep menerangkan bahwa untuk daerah yang level kuning tersebar di beberapa daerah, mulai dari Donggala, tolitoli, da poso. Level kuning dapat meningkat ke level merah jika hujan tak kunjung turun, sehingga dapat mengakibatkan kebakaran lahan.

BACA JUGA :  PB-PIB Gelar Ziarah Akbar Kunjungi Makam Ulama dan Tokoh di Kota Palu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *