Eks-Napiter Dukung Satgas Madago Raya Cegah Radikalisme di Poso

waktu baca 2 menit
Moh. Riski Wahyudi Bin Idrus Padoma. (foto : ist).

Diksi.net, Poso – Moh. Riski Wahyudi Bin Idrus Padoma, seorang mantan narapidana kasus terorisme, kini menunjukkan langkah positif dengan mendukung upaya Satgas Operasi Madago Raya 2025 dalam mencegah penyebaran paham radikal di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Setelah menjalani masa tahanan dan program deradikalisasi, Riski kini aktif berkontribusi di masyarakat dan menjalani kehidupan baru bersama keluarganya.

Riski ditangkap pada Mei 2022 atas keterlibatannya dalam kasus terorisme dan dijatuhi hukuman tiga tahun penjara, yang dijalaninya di Rutan Salemba, Jakarta Pusat. Selama masa tahanan, ia mengikuti program Ikrar Setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Rutan Cikeas, Bogor, dan Rutan Salemba. Program ini bertujuan untuk mengubah pandangan ekstrem dan memperkuat komitmen terhadap ideologi Pancasila.

BACA JUGA :  Polres Banggai Ungkap Kasus Korupsi Dir PDAM

“Setelah bebas, saya kembali ke kampung halaman di Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, dan tinggal bersama orang tua membantu keluarga mengelola tambak ikan,” ungkap Riski.

Pada 17 Agustus 2025, Riski turut memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-80 di Lapangan Dusun Tamanjeka, Desa Masani, Kecamatan Poso Pesisir. Ia bergabung dengan eks-narapidana terorisme (napiter) lainnya serta simpatisan yang tergabung dalam Yayasan Lingkar Perdana Kabupaten Poso. Keikutsertaannya dalam upacara ini menjadi simbol komitmennya untuk mendukung keutuhan NKRI dan menolak paham radikal.

BACA JUGA :  SKUT Poso: Komitmen Sosial dan Dukungan Deradikalisasi di Poso

Riski menyatakan dukungannya terhadap Satgas Operasi Madago Raya 2025, yang bertugas mencegah penyebaran paham radikal dan menjaga keamanan di wilayah Poso. “Langkah ini sebagai wujud nyata dari perubahan positif pasca-program deradikalisasi. Yayasan Lingkar Perdana, yang menjadi wadah bagi eks-napiter, juga berperan dalam mendampingi untuk kembali diterima di masyarakat dan mencegah kembalinya ideologi ekstrem,” ucapnya.

BACA JUGA :  PB-PIB Gelar Ziarah Akbar Kunjungi Makam Ulama dan Tokoh di Kota Palu

Kisah Riski menjadi bukti bahwa deradikalisasi dan reintegrasi sosial dapat membawa perubahan positif. Dengan dukungan keluarga, masyarakat, dan pihak berwenang, eks-napiter seperti Riski mampu menjalani kehidupan produktif dan berkontribusi bagi keamanan serta kedamaian di Poso.

Satgas Operasi Madago Raya terus mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk eks-napiter, untuk memastikan stabilitas keamanan di wilayah yang pernah menjadi pusat konflik ini. Kisah Riski menjadi bukti bahwa perubahan menuju kehidupan yang lebih baik adalah mungkin dengan komitmen dan dukungan yang tepat.

Andi Syaifullah
Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *