BI Sulteng Jadi Kompas Pelaku Usaha di Tengah Dinamika Ekonomi Global
Diksi.net, Ampana – Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Tengah, Muhamad Irfan Sukarna, mengajak seluruh insan pers dan mitra strategis untuk terus merawat optimisme di tengah berbagai tantangan dan ketidakpastian ekonomi global. Ajakan ini disampaikan saat ia membuka kegiatan Capacity Building Media Mitra di Marina Cottage Ampana, Kabupaten Tojo Una-Una, Minggu (2/8/2026).
Di hadapan para awak media yang hadir, Irfan menekankan pentingnya membangun kesepahaman antara Bank Indonesia dan mitra di daerah mengenai peran, tugas, serta posisi strategis institusi keuangan di masing-masing wilayah.
Menurut Irfan, kerja sama yang kokoh hanya bisa terwujud melalui pola komunikasi yang sehat dan transparan. Ia mengingatkan pentingnya berbagi informasi secara proporsional, dengan tetap menghormati batas antara informasi yang bersifat publik dan yang bersifat terbatas.
“Harapannya agar terjalin pemahaman yang sama antara Bank Indonesia dan mitra-mitra di daerah mengenai kondisi dan posisi mitra Bank Indonesia di wilayah masing-masing. Serta menjalin kerja sama yang baik melalui sharing informasi tanpa saling menyinggung,” ujar Irfan.
Dalam paparannya, Irfan juga menyoroti ketangguhan mental masyarakat Indonesia, khususnya warga Sulawesi Tengah, yang kerap diuji oleh berbagai peristiwa duka dan bencana alam. Sulteng bahkan tercatat sebagai salah satu wilayah dengan frekuensi bencana tertinggi sepanjang Januari–Juni tahun ini. Meski begitu, ketahanan sosial masyarakat setempat terbukti tetap terjaga.
Ia mengingatkan bahwa bangsa Indonesia memiliki sejarah panjang menghadapi ujian berat, mulai dari tsunami Aceh, tragedi likuifaksi di Palu, hingga krisis ekonomi global 1998. Meski diterpa banyak musibah, masyarakat Indonesia selalu mampu bangkit dan kembali tersenyum.
Irfan menegaskan, Bank Indonesia mengambil peran kunci sebagai motor penggerak sinergi antar-pemangku kepentingan. BI memiliki modal penting untuk merajut kerja sama erat sekaligus menyebarkan narasi positif guna membangkitkan optimisme di kalangan masyarakat, pemerintah daerah, hingga para pelaku usaha.
Di tengah dinamika ketidakpastian global saat ini, ia mengungkapkan bahwa pelaku usaha dari berbagai sektor riil dan asosiasi kerap menjadikan pandangan Bank Indonesia sebagai kompas dalam membaca arah bisnis ke depan.
Karena itu, otoritas ekonomi nasional yang mencakup Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, hingga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selalu berupaya memancarkan energi optimisme dan menjauhkan sikap pesimistis.
Irfan menegaskan, jika otoritas dan pelaku usaha ikut bersikap pesimistis, maka gairah, semangat, dan harapan masyarakat luas akan ikut meredup. Karena itu, langkah-langkah kecil yang konsisten diibaratkannya seperti melempar batu-batu kecil ke danau untuk menciptakan riak yang besar.
“Harus terus dilakukan guna memicu pemikiran besar yang mampu mendongkrak kembali optimisme perekonomian nasional,” tutup Irfan.
