Dukung Wisata Berkelanjutan, 100 Pohon Mahoni Ditanam di Situs Megalit Pokekea

waktu baca 2 menit
Direktur RoA, Mumammad Subarkah saat menanam pohon di kawasan situs megalit Pokekea. (Foto : Yardin).

Diksi.net, Poso – Dinas Pariwisata Kabupaten Poso bersama Relawan Orang dan Alam (RoA) menggelar aksi penanaman 100 pohon mahoni di kawasan Situs Megalit Pokekea, Desa Hanggira, Kecamatan Lore Tengah, Jumat (27/6/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Festival Tampo Lore 2025, yang digelar di situs megalit tersebut.

Aksi penghijauan dilakukan langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Poso, Yusak Mentara, bersama sejumlah pejabat daerah, sesaat setelah pembukaan festival budaya yang berlangsung di lokasi yang sama.

BACA JUGA :  Eks Napiter Poso Muhammad Thoha Tolak Radikalisme

Direktur Relawan Orang dan Alam, Mohamad Subarkah, menjelaskan bahwa penanaman pohon mahoni dilakukan untuk memberikan kenyamanan jangka panjang bagi wisatawan yang berkunjung ke situs budaya tersebut.

“Selama ini kawasan Pokekea didominasi ilalang. Dengan ditanamnya pohon mahoni, kami berharap area ini menjadi lebih rindang dan nyaman untuk pengunjung,” kata Subarkah.

Ia menambahkan, pohon mahoni (Swietenia macrophylla) dipilih karena memiliki pertumbuhan cepat dan cocok untuk program penghijauan jangka menengah. Pohon-pohon tersebut merupakan bantuan dari Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tengah.

BACA JUGA :  BI Sulteng Gelar Kompetisi QRIS Jelajah Indonesia

“Kami mengapresiasi Dinas Kehutanan yang telah menyumbangkan 100 pohon mahoni untuk mendukung pelestarian situs budaya ini,” ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Poso, Yusak Mentara, menyambut positif inisiatif penghijauan tersebut. Menurutnya, ini adalah pertama kalinya sebuah lembaga melakukan penanaman pohon di area Situs Megalit Pokekea.

“Langkah ini sangat positif, tidak hanya untuk mendukung pariwisata, tapi juga sebagai upaya pelestarian lingkungan kawasan warisan budaya,” ungkap Yusak.

BACA JUGA :  BI Sulteng Gelar Diskusi Ekonomi Fokus Stabilitas Makro dan Penguatan Pariwisata

Senada dengan itu, perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVIII, Muhammad Tan, juga menyampaikan dukungannya. Ia menilai kawasan megalit seperti Pokekea memang sudah saatnya dihijaukan demi kenyamanan pengunjung dan keberlanjutan situs budaya.

“Kami juga mendorong agar kawasan megalit Tadulako mendapat perlakuan serupa, agar seluruh situs megalit di Lembah Behoa memiliki daya tarik yang lestari,” jelas Tan.

Moh. Sharfin
Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *