Iwwadh, Tradisi Lebaran Keturunan Arab di Palu yang Kian Inklusif
Diksi.net, Palu – Masyarakat keturunan Arab di Kota Palu, Sulawesi Tengah, memiliki tradisi unik dalam merayakan Idulfitri yang dikenal sebagai Iwwadh. Tradisi yang digelar pada hari kedua Lebaran ini menjadi momen penting untuk mempererat silaturahmi dan memperkokoh nilai kebersamaan. Namun, ada yang berbeda dalam pelaksanaan Iwwadh tahun ini dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Salah satu ciri khas Iwwadh di masa lalu adalah pembagian uang dari lantai dua Rumah Nadoli, tempat puncak acara berlangsung. Rumah ini memiliki nilai historis bagi masyarakat keturunan Arab di Palu.
“Rumah ini bukan hanya saksi bisu perjalanan sejarah warga keturunan Arab di Palu, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dalam menjaga tradisi,” ujar Hakim Al Amri, salah satu tokoh masyarakat setempat.
Namun, tahun ini, Iwwadh diselenggarakan dengan lebih sederhana. Para tamu yang hadir dijamu dengan makan siang bersama, menciptakan suasana yang lebih hangat dan akrab. Selain itu, perayaan kini lebih terbuka, tidak hanya diikuti oleh warga keturunan Arab, tetapi juga melibatkan masyarakat lokal, mencerminkan bagaimana tradisi ini berkembang dan beradaptasi dengan dinamika sosial.
Menurut Farid Djafar Nazar, Iwwadh berasal dari kata yang berarti “kembali”, yang mencerminkan makna kembali menyucikan diri dan saling memaafkan.
“Esensi dari Iwwadh bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkuat hubungan antar sesama, baik dari kalangan keturunan Arab maupun masyarakat luas,” jelasnya.
Sebelum acara inti, Iwwadh diawali dengan ziarah ke makam Habib Idrus bin Salim Al-Jufri, atau yang lebih dikenal sebagai Guru Tua. Setelah itu, warga melanjutkan silaturahmi dari rumah ke rumah sambil melantunkan shalawat Nabi, sebagai bentuk doa dan keberkahan bagi pemilik rumah.
Perubahan dalam pelaksanaan Iwwadh tahun ini mencerminkan bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang statis. Dengan tetap mempertahankan nilai-nilai inti, Iwwadh kini menjadi lebih inklusif dan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat di Kota Palu.
Ke depan, diharapkan tradisi ini tetap lestari dan semakin mempererat hubungan sosial di tengah keberagaman.



