Kenaikan Harga Material Sirtu Asal Sulteng Ancam Kelancaran Pembangunan IKN

waktu baca 2 menit
Mesin pemecah batu saat beroperasi. (Foto : ist).

Diksi.net, Palu – Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) menghadapi ancaman serius akibat lonjakan harga material pasir dan batu (sirtu) asal Sulawesi Tengah (Sulteng) yang meningkat drastis. Kenaikan harga hingga 3 hingga 4 kali lipat dari harga pokok material tersebut menimbulkan kekhawatiran akan terhambatnya pasokan material yang dibutuhkan untuk pembangunan infrastruktur IKN.

Dalam menanggapi hal ini, Direktorat Jenderal Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bersama Pemerintah Provinsi Sulteng menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Pemuktahiran dan Pengendalian Laju Kenaikan Harga Material pada Jumat (27/9) di Hotel Swiss-Bel, Palu. Tujuannya adalah merumuskan kebijakan untuk menekan lonjakan harga material yang berpotensi mengganggu proyek infrastruktur di IKN.

BACA JUGA :  Eks Napiter Kini Buka Jasa Service Elektronik dan Komitmen Bantu Deradikalisasi

Direktur Kelembagaan dan Sumber Daya Konstruksi Kementerian PUPR, Nicodemus Daud, menyatakan bahwa kenaikan harga material ini membuka peluang bagi daerah lain untuk menggantikan Sulteng sebagai pemasok utama material IKN. 


“Ada dua daerah yang kabarnya siap bersaing, yaitu Sulawesi Barat dan Banten. Jika kenaikan harga ini tidak terkendali, Sulteng bisa kehilangan posisi strategisnya,” ujar Nicodemus.

BACA JUGA :  Jasa Raharja Sosialisasikan Aplikasi JR Safety Road

Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Dr. Rudi Dewanto, mengakui bahwa Sulteng memegang peranan penting sebagai pemasok utama sirtu berkualitas ke Kalimantan, selain sebagai penyangga pangan IKN. 

“Balikpapan banyak menerima pasokan material dari Palu dan Donggala yang kualitasnya sudah diakui,” ujarnya.

Rakor ini diharapkan mampu menghasilkan solusi konkret untuk menjaga stabilitas harga material dan memastikan pasokan sirtu yang terjangkau bagi pelaku konstruksi yang terlibat dalam pembangunan IKN. 

“Kami bersyukur Direktur Nicodemus datang untuk memonitor agar tidak ada daerah lain yang mengambil alih peran kami,” tambah Rudi Dewanto.

BACA JUGA :  Mantan Simpatisan JI dan ISIS Poso Nyatakan Kesetiaan pada NKRI

Selain itu, penghentian sementara operasional perusahaan tambang galian C di Kelurahan Tipo dan Watusampu turut mempengaruhi rantai pasok material sirtu. 

“Kami harus menemukan solusi yang menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan lingkungan,” tegas Rudi.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjalankan pembangunan IKN yang ramah lingkungan dengan mengedepankan prinsip-prinsip kelestarian alam. “Prinsip lingkungan hidup dan kepatuhan tambang tidak boleh diabaikan,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *