Waspada Segitiga Setan Keuangan: OJK Gencarkan Literasi di Festival Tampo Lore

waktu baca 3 menit
Salah seorang warga saat bertanya tentang literasi keuangan pada narasember di Festival Tampo Lore. (foto : Yardin Hasan).

Diksi.net, Palu – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tengah memanfaatkan gelaran Festival Tampo Lore 2025 di Situs Megalit Pokekea, Desa Hanggira, untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya kejahatan keuangan. Acara ini menjadi panggung strategis untuk meningkatkan literasi keuangan, khususnya di kalangan warga desa, di tengah maraknya penipuan finansial seperti judi online, pinjaman online ilegal, dan investasi bodong.

Dalam sesi sosialisasi yang berlangsung lebih dari satu jam, Kepala Bagian Humas OJK Sulteng, Megawati, memaparkan fenomena “segitiga setan” kejahatan keuangan. Ia menjelaskan, ketiga jenis kejahatan ini judi online, pinjaman online ilegal, dan investasi ilegal beroperasi tanpa izin OJK atau otoritas resmi lainnya. Yang lebih memprihatinkan, pelaku sering memanfaatkan endorsement figur publik atau tokoh agama untuk menipu korban.

BACA JUGA :  Bank Indonesia Dorong UMKM Desa Naik Kelas melalui Literasi Keuangan

“Banyak selebriti atau tokoh agama mempromosikan produk keuangan ilegal tanpa menyadari dampaknya. Ini memperluas jangkauan penipuan,” ujar Megawati.

Ia membeberkan pola berulang dari kejahatan ini. Judi online sering menjadi pemicu utang karena korban yang kalah terdesak mencari dana cepat. Akibatnya, mereka terjerat pinjaman online ilegal dengan bunga mencekik. Tak jarang, korban kemudian tergiur investasi bodong yang menjanjikan keuntungan besar untuk melunasi utang, namun justru membuat kerugian semakin besar.

“Banyak masyarakat datang ke OJK dalam keadaan putus asa, menangis karena uang mereka hilang akibat pinjol atau judi online,” ungkap Megawati 

Megawati menyoroti bagaimana pelaku kejahatan memanfaatkan kemajuan teknologi finansial (fintech) untuk menjangkau korban secara lebih luas dan cepat. Meski OJK telah bekerja sama dengan Google untuk memblokir aplikasi keuangan ilegal, pelaku terus beradaptasi dengan beralih ke platform seperti Telegram.

BACA JUGA :  Febriani Jelaskan Cara Vale Menerapkan Prinsip ESG

“Arus uang dari kejahatan ini juga rentan digunakan untuk pencucian uang atau mendanai aktivitas ilegal lainnya, yang merusak sistem keuangan formal,” tambahnya.

Survei inklusi keuangan di Sulawesi Tengah menunjukkan fakta mencemaskan: meski 80% penduduk telah mengakses produk keuangan, hanya 30% yang memahami literasi keuangan. “Ini berisiko besar karena banyak masyarakat tidak paham dampak dari produk keuangan yang mereka pilih,” tegas Megawati.

Direktur Relawan Orang dan Alam sekaligus inisiator Festival Tampo Lore, Muhamad Subarkah, menjelaskan alasan mengundang OJK sebagai narasumber. 

“Kami ingin warga desa memahami potensi kejahatan keuangan yang semakin canggih. Literasi keuangan adalah kunci untuk mengambil keputusan bijak, menghindari penipuan, dan mendukung kemandirian ekonomi,” ujarnya.

BACA JUGA :  Dukung Wisata Berkelanjutan, 100 Pohon Mahoni Ditanam di Situs Megalit Pokekea

Subarkah menegaskan bahwa literasi keuangan bukan sekadar soal menabung, melainkan fondasi untuk mencegah kemiskinan, mengelola pendapatan secara bijak, dan memperkuat ekonomi keluarga serta desa. “Ini tentang membangun ketahanan ekonomi dari tingkat desa,” pungkasnya.

Sosialisasi ini diikuti oleh pengunjung festival, tokoh adat, dan perwakilan pemerintah desa dari Desa Baliura, Hanggira, Doda, dan Bariri. Antusiasme warga terlihat dari banyaknya pertanyaan seputar cara mengenali produk keuangan ilegal dan langkah melindungi diri dari penipuan.

OJK berharap kegiatan seperti ini dapat terus digalakkan untuk menjangkau lebih banyak masyarakat, terutama di wilayah pedesaan. Dengan literasi keuangan yang memadai, masyarakat diharapkan mampu membuat keputusan finansial yang cerdas dan terhindar dari jebakan kejahatan keuangan.

Andi Syaifullah
Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *