Wagub Ajak TPID Sulteng Gerak Cepat Tekan Inflasi Jelang Idul Fitri
Diksi.net, Palu – Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny A. Lamadjido, mengajak seluruh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) kabupaten/kota se-Sulteng untuk segera bergerak antisipatif menghadapi lonjakan inflasi jelang Idul Fitri 1447 H/2026.
Ajakan itu disampaikan Reny saat membuka Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) TPID se-Sulawesi Tengah secara hybrid di Gedung Pogombo, Kamis (26/2/2026). Forum tersebut menjadi wadah konsolidasi daerah guna menekan tekanan inflasi yang kembali meningkat di awal tahun ini.
Reny menjelaskan, inflasi Sulteng pada Januari 2026 melonjak ke level 4,55% (year-on-year), melampaui ambang batas toleransi yang ditetapkan. Padahal, pada Desember 2025 berhasil ditekan hingga berada di kisaran 3,5%. Kenaikan ini menjadi sinyal kuat bagi TPID untuk bertindak cepat.
“Cuaca ekstrem belakangan ini sangat memengaruhi produksi pangan di Sulteng, sehingga harga komoditas volatile food seperti bawang, cabai, ikan laut, telur, dan beras ikut naik,” ujar Reny.
Selain faktor cuaca, ia juga menyoroti perilaku masyarakat yang cenderung memborong emas akhir-akhir ini turut memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi. Menjelang libur Lebaran, Reny memprediksi kenaikan harga tiket transportasi serta peningkatan pola konsumsi masyarakat akan menjadi pemicu inflasi lebih lanjut.
“Ayo kita cari tahu betul apa yang harus dilakukan supaya inflasi ini turun dan kembali sehat,” serunya, sembari mendorong peserta Rakorda memberikan masukan dan usulan konkret.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah, Muhammad Irfan Sukarna, menambahkan bahwa dampak cuaca ekstrem tidak hanya dirasakan Sulteng, tetapi juga provinsi tetangga. Hal ini menyebabkan kelangkaan stok pangan di daerah sekitar, sehingga permintaan pasokan dari Sulteng sebagai salah satu produsen utama melonjak tajam.
“Periode libur panjang dan tradisi mudik akan memicu lonjakan kebutuhan di berbagai daerah. Akibatnya, arus keluar barang dari Sulteng meningkat, berpotensi menimbulkan kelangkaan stok lokal dan kenaikan harga,” jelas Irfan.
Untuk mengatasinya, ia menekankan pentingnya memperkuat implementasi framework 4K: ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Langkah konkret yang disarankan meliputi:
Mengintensifkan sidak pasar dan pelaksanaan pasar murah, optimalisasi neraca pangan, penguatan rantai distribusi, serta perluasan kerja sama antar daerah guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat khususnya di periode jelang idul fitri hingga pasca-idul fitri.
Irfan optimistis, dengan strategi terukur tersebut, inflasi Sulteng dapat kembali melandai. “Harapan kami, pada Maret 2026 inflasi lebih terkendali,” tuturnya.
