Transformasi Umat melalui Dakwah, Pendidikan, dan Kemanusiaan

waktu baca 3 menit
DDII (Foto : ist).

Diksi.net, Tojo Una-Una – Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) berdiri pada 26 Februari 1967, diprakarsai oleh para pendiri bangsa yang visioner, seperti Mohammad Natsir (Perdana Menteri Pertama RI), Mohammad Roem (Menteri Luar Negeri RI dan tokoh Perjanjian Roem-Royen), Sjafroedin Prawiranegara (Presiden Pemerintah Darurat RI dan Gubernur Bank Indonesia Pertama), Prof. Dr. HM Rasjidi (Menteri Agama Pertama RI), Burhanuddin Harahap (Perdana Menteri ke-9), Prawoto Mangkususmito (Ketua Partai Masyumi Terakhir), dan Prof. Kasman Singodimedjo (Jaksa Agung Pertama). Dengan usia 58 tahun pada 26 Februari 2025, DDII telah menunjukkan kematangan dalam memperjuangkan dakwah dan pendidikan di Indonesia.

Selama lebih dari setengah abad, DDII telah memberikan kontribusi signifikan bagi kemajuan umat dan bangsa. Organisasi ini fokus pada tiga poros utama: pesantren, masjid, dan kampus, yang menjadi fondasi kokoh dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. DDII telah mendirikan berbagai lembaga pendidikan seperti pesantren, sekolah, dan perguruan tinggi, serta lembaga sosial dan kesehatan di seluruh Indonesia, termasuk di pelosok terpencil.

BACA JUGA :  WNA Diduga Terlibat PETI di Parigi Moutong, Aktivitas Tambang Ilegal Resahkan Warga

Saat ini, DDII memiliki perwakilan di 32 provinsi, mengelola ribuan siswa dari tingkat Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah Menengah Atas, serta 30 kampus dakwah, termasuk STID Mohammad Natsir dan Akademi Dakwah Indonesia. Ribuan kader dai telah dibina dan ditempatkan di berbagai daerah, didukung oleh ratusan masjid yang dibangun oleh organisasi ini.

Di Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, DDII Touna berdiri sejak 2015, berpusat di Jalan Jalur L. Rato, Kelurahan Uemalingku, Kecamatan Ratolindo. Berawal dari lima anggota pengurus, DDII Touna terus berkembang. Pada 2017, melalui koordinasi dengan DDII Provinsi Sulawesi Tengah, organisasi ini mulai merintis pembangunan rumah dakwah dengan membangun komunikasi positif bersama masyarakat sekitar.

BACA JUGA :  Komunitas SKUT Dukung Satgas Madago Raya Cegah Radikalisme di Poso

DDII Touna tidak hanya berfokus pada dakwah di perkotaan dan pedesaan, tetapi juga menjangkau suku pedalaman seperti suku Wana melalui program safari dakwah. Selain itu, DDII Touna aktif dalam kegiatan sosial seperti sunat massal, kerja bakti, dan pengelolaan Laznas untuk menghimpun zakat, infak, dan sedekah guna mendukung program beasiswa pendidikan, dakwah pedalaman, pemberdayaan umat, serta kegiatan kemanusiaan dan kesehatan.

DDII Touna berpegang pada visi: Terwujudnya tatanan kehidupan masyarakat Indonesia yang Islami berdasarkan takwa dan keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Untuk mewujudkan visi ini, DDII memiliki misi strategis, antara lain:

  • Meningkatkan kualitas dan intensitas dakwah.
  • Menanamkan akidah Islam berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah.
  • Menyiapkan juru dakwah berkualitas untuk berbagai lapisan masyarakat.
  • Membendung pemurtadan, perang pemikiran (ghazwul fikri), dan gerakan penyesatan.
  • Membangun solidaritas Islam internasional untuk mendukung perdamaian dunia.
BACA JUGA :  Gubernur SultengHadiri Malam Anugerah Komisi Informasi Sulteng Award 2024

DDII Touna menegaskan komitmennya dalam menolak paham radikal yang dapat memicu terorisme. Organisasi ini bekerja sama dengan pihak keamanan, termasuk Polri, untuk meminimalisir penyebaran paham radikal dan intoleransi di wilayah Ratolindo, Tojo Una-Una. Dengan pendekatan dakwah yang moderat dan berbasis pendidikan, DDII Touna berupaya menciptakan harmoni sosial dan memperkuat nilai-nilai keislaman yang inklusif.

Dengan pengalaman 58 tahun, DDII terus mengokohkan posisinya sebagai organisasi terdepan dalam dakwah dan pendidikan di Indonesia. Melalui dedikasi para kader dan dukungan masyarakat, DDII tidak hanya menjadi agen perubahan spiritual, tetapi juga motor penggerak kemajuan sosial dan pendidikan di berbagai penjuru negeri.

Kata Kunci SEO: Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, DDII Touna, dakwah Islam, pendidikan Islam, pesantren, masjid, kampus dakwah, Tojo Una-Una, suku Wana, safari dakwah, anti radikalisme.

Moh. Sharfin
Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *