Pasar Domestik dan Biofuel Dipicu Jadi Penyebab 2/3 Deforestasi Sawit di Indonesia
Diksi.net, Jakarta – Pasar domestik Indonesia kini terhubung dengan dua pertiga (2/3) total deforestasi yang disebabkan oleh industri minyak kelapa sawit. Angka ini hampir sembilan kali lipat lebih tinggi dibandingkan deforestasi yang terikat dengan ekspor ke India, yang selama ini menjadi pasar luar negeri terbesar bagi Indonesia.
Temuan tersebut diungkapkan dalam analisis terbaru dari Trase mengenai rantai pasok minyak sawit Indonesia periode 2023–2024.
“Pasar domestik yang terus berkembang membuat transparansi di seluruh sektor menjadi lebih penting dari sebelumnya. Untuk memperkuat konservasi hutan, diperlukan pelaporan yang lebih baik mengenai pembeli domestik serta lokasi pengadaannya yang dapat diakses publik,” ujar Adelina Chandra, Peneliti Trase, dalam keterangan resminya, Selasa (13/10/2026).
Pada tahun 2024, Indonesia mencatatkan rekor produksi minyak sawit tertinggi di dunia, mencapai 47 juta metrik ton. Menariknya, lebih dari separuh total produksi tersebut dikonsumsi di dalam negeri rekor tertinggi dalam sejarah yang didorong oleh tingginya lonjakan permintaan domestik, termasuk pencampuran program biodiesel.
Dominasi Raksasa Eksportir dan Pergeseran Pemain
Di panggung ekspor, empat grup perusahaan besar tercatat masih mendominasi pergerakan rantai pasok global. Royal Golden Eagle (RGE), Sinar Mas, Musim Mas, dan Wilmar secara akumulatif menyumbang 52 persen dari total volume ekspor minyak sawit Indonesia pada tahun 2024.
Meski begitu, pergeseran signifikan terjadi pada jajaran eksportir kelas menengah. KPN Corp melonjak drastis dari peringkat ke-15 ke posisi ketujuh. Sebaliknya, Permata Hijau mengalami penurunan dari peringkat kelima menjadi peringkat ke-12.
Sementara itu, untuk peta tujuan ekspor, India tetap bertahan sebagai pasar terbesar. Namun, posisi kedua kini diraih oleh Pakistan yang menggeser Tiongkok pada tahun 2024.
Papua dan Kalimantan Jadi Titik Rawan Deforestasi
Secara umum, angka deforestasi akibat perkebunan sawit di Indonesia sebenarnya berada di tingkat terendah secara historis, yakni 32.000 hektar pada tahun 2024. Kendati demikian, tren lonjakan kehilangan hutan baru kembali mengkhawatirkan di sejumlah wilayah kunci.
Di Papua, laju deforestasi untuk perluasan lahan sawit meningkat lebih dari dua kali lipat, yakni dari 3.600 hektar pada 2024 menjadi 7.300 hektar pada 2025. Di sisi lain, Pulau Kalimantan menyumbang porsi terbesar dengan porsi 56 persen dari total deforestasi sawit secara nasional.
Dampak buruk perluasan lahan ini turut berimbas pada krisis iklim. Pada tahun 2024, penurunan permukaan tanah gambut akibat perkebunan sawit menghasilkan emisi mencapai 148 juta metrik ton setara CO₂. Bersama dengan kebakaran lahan gambut, aktivitas ini menyumbang hingga 85 persen dari total emisi gas rumah kaca di sektor sawit.
Direktur Eksekutif Auriga, Timer Manurung, menyoroti ancaman kebakaran hutan yang terjadi di tengah musim kemarau tahun ini.
“Sebagaimana ditunjukkan oleh pemetaan area terbakar oleh MapBiomas Indonesia, di antara semua konsesi ekstraktif, konsesi sawit masih mencatat jumlah kebakaran terbanyak. Industri sawit masih perlu melakukan perbaikan mendasar,” tegas Timer.
Tantangan Petani Swadaya
Di luar dominasi korporasi besar, analisis ini juga menyoroti peran petani kecil (smallholders) yang berkontribusi sebesar 35 persen dari total produksi minyak sawit nasional.
Meski memiliki porsi produksi yang cukup signifikan, para petani kecil ini dinilai masih menghadapi hambatan besar, terutama dalam hal akses bantuan peremajaan tanaman (replanting), legalitas kepastian hak atas tanah, serta pemenuhan standar keterlacakan rantai pasok (traceability).
