Menjaga Napas Demokrasi melalui Kebebasan Pers di Makassar

waktu baca 2 menit
Ketua AJI Indonesia, Nany Afrida. (foto : Dok Fesmed AJI).

Diksi.net, Makassar – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kembali menggelar Festival Media (Fesmed) 2025 di Benteng Ujung Pandang, Makassar, dengan tema “Kondisi Demokrasi, Kebebasan Bersuara, dan Kebebasan Pers”. Perhelatan tahunan ini mempertemukan ratusan jurnalis, akademisi, aktivis, dan komunitas sipil dari berbagai daerah untuk membahas tantangan demokrasi dan kebebasan pers di Indonesia.

Ketua AJI, Nany Afrida, dalam sambutan pembukaan pada Jumat (12/9), menegaskan bahwa Fesmed bukan sekadar acara seremonial, melainkan respons terhadap krisis demokrasi yang sedang melanda Indonesia. “Demokrasi kita sedang sakit, dan penyakit paling berbahaya adalah pembungkaman kebebasan pers,” ujarnya.

Nany menyoroti bahwa demokrasi sejati lahir dari suara rakyat, dan jurnalis berperan sebagai penjaga suara tersebut. “Tanpa pers yang bebas, yang tersisa hanyalah propaganda dan kebohongan yang dipoles sebagai kebenaran,” tegasnya. Ia mencatat berbagai ancaman terhadap jurnalis, mulai dari intimidasi, kriminalisasi, hingga sensor halus melalui tekanan iklan dan kepentingan politik. Kekerasan terhadap jurnalis di lapangan, menurutnya, bahkan sudah dianggap biasa.

BACA JUGA :  Sejumlah Band Lokal Ramaikan Fesmed 2022

Nany juga mengungkapkan keprihatinan atas gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di industri media, yang telah menyebabkan sekitar 1.300 jurnalis kehilangan pekerjaan. “Satu jurnalis di-PHK berarti satu mata rakyat ditutup. Ketika media dimatikan, telinga rakyat ditulikan. Tanpa pers, rakyat menjadi buta,” katanya, menekankan dampak PHK tidak hanya pada ekonomi, tetapi juga pada hilangnya akses publik terhadap informasi.

BACA JUGA :  Festival Media 2 : AMSI, IJTI Sulteng dan PFI Palu Gunakan Tema “Hijau”

Ia menegaskan bahwa jurnalis memiliki peran krusial dalam mengungkap isu-isu penting seperti korupsi, kerusakan lingkungan, dan perjuangan masyarakat adat. “Bukan influencer atau buzzer yang meliput hutan yang rusak atau sungai tercemar, tetapi jurnalis yang bekerja dengan jujur demi kepentingan publik,” tambahnya.

Fesmed 2025 mengusung semangat inklusif dengan menggandeng berbagai kalangan, termasuk aktivis lingkungan, pegiat HAM, komunitas adat, dan seniman. Nany menyerukan solidaritas lintas sektor untuk menjaga kebebasan pers sebagai napas demokrasi. “Jurnalis tidak punya senjata atau kekuasaan, tetapi kami punya keberanian untuk menyuarakan kebenaran,” ujarnya.

BACA JUGA :  Menkeu Ajak Perbankan Jaga Resiliensi Perekonomian Indonesia

Acara ini menghadirkan diskusi mendalam tentang demokrasi, kebebasan pers, HAM, dan konflik agraria, serta pameran bertema jurnalisme dan kebebasan berekspresi. Peserta juga berkesempatan mengikuti berbagai kelas dan workshop untuk memperkaya wawasan dan keterampilan jurnalistik.

Fesmed 2025 menjadi panggilan bagi jurnalis untuk tetap bekerja demi kepentingan publik, meski dihadapkan pada tekanan dan tantangan. Dengan kolaborasi lintas komunitas, AJI berupaya memperkuat peran pers sebagai pilar demokrasi, memastikan suara rakyat terus terdengar, dan menjaga kebenaran tetap hidup di tengah gempuran propaganda dan pembungkaman.

Andi Syaifullah
Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *