Menguak Kekayaan Kopi dan Budaya Desa Katu di Festival Tampo Lore 

waktu baca 3 menit
Diskusi setelah nobar Kopi Tua Desa Katu pada Festival Tampo Lore IV. (foto : Yardin Hasan).

Diksi.net, Poso – Jurnalis Wanita Indonesia (JUWITA) sukses menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Kopi Tua Desa Katu pada Festival Tampo Lore di Desa Hangira, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso, Sabtu (28/6/2025). 

Acara ini menjadi panggung untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan potensi kopi Desa Katu melalui karya jurnalistik.

JUWITA, organisasi yang fokus pada penguatan peran jurnalis perempuan dan pemberdayaan masyarakat, berkolaborasi dengan Alfatwa Multimedia untuk memproduksi film dokumenter berdurasi 25 menit ini. Film ini tak hanya menonjolkan keindahan alam dan budaya lokal, tetapi juga menggambarkan hubungan erat antara sejarah kopi dan identitas masyarakat Desa Katu.

Ketua JUWITA, Kartini Naingolan, menjelaskan bahwa Kopi Tua Desa Katu merupakan langkah awal untuk mendokumentasikan jejak kopi yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. “Kami merekam dengan peralatan sederhana, jadi masih banyak kekurangan. Kami sangat terbuka pada masukan penonton untuk menyempurnakan karya ini,” ungkapnya.

BACA JUGA :  Program Beasiswa Berani Cerdas Sulteng Berhasil Jangkau 15.663 Pelajar dan Mahasiswa

Kartini juga mengungkap rencana JUWITA untuk melanjutkan produksi film yang lebih mendalam tentang potensi kopi di Desa Katu dan desa-desa lain di Sulawesi Tengah. 

“Film ini seperti profil desa, mencakup kondisi penduduk, geografi, sejarah, dan budaya. Ke depan, kami ingin fokus pada kopi tertua yang masih bertahan hingga kini,” tegasnya.

Diskusi pasca-nobar menghadirkan masukan berharga dari sejumlah tokoh. Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Sulawesi Tengah, Mohammad Ikbal, mengapresiasi kekuatan visual dan narasi film, tetapi menyoroti penggunaan voice over berbasis kecerdasan buatan (AI). 

BACA JUGA :  Waspada Segitiga Setan Keuangan: OJK Gencarkan Literasi di Festival Tampo Lore

“Naskahnya rapi dan gambarnya kuat, tapi narasi AI mengurangi kedalaman emosi. Akan lebih menyentuh jika disuarakan oleh anggota JUWITA atau warga Katu sendiri,” sarannya. Ia juga menyarankan agar ekspedisi dalam film diperluas untuk membuat cerita lebih hidup.

Sementara itu, jurnalis foto BMZ dari Pewarta Foto Indonesia (PFI) Palu menilai film ini memiliki dua fokus yang sama kuat: kopi dan Desa Katu. “Perlu diputuskan dari awal, ini tentang kopi tua atau Desa Katu? Pembuka film harus menentukan arah cerita, apakah menonjolkan kopi atau desa,” ujarnya. 

BACA JUGA :  Kehadiran Dubes Vatikan Warnai Bakti Sosial Operasi Katarak Gratis di Palu

Ia menekankan pentingnya riset mendalam untuk menghasilkan visual dan narasi yang lebih terfokus. “Karya ini patut diapresiasi karena dibuat oleh jurnalis perempuan yang peduli pada pemberdayaan desa dan potensi lokal. Film ini tidak hanya mempromosikan budaya, tetapi juga mendorong lahirnya karya dokumenter berkualitas,” tutupnya.

Acara nobar dan diskusi ini menjadi bukti komitmen JUWITA dalam menghasilkan karya jurnalistik yang memberdayakan masyarakat. Dengan memadukan visual, narasi, dan semangat pemberdayaan. Kopi Tua Desa Katu bukan sekadar film, tetapi juga jembatan untuk memperkenalkan kekayaan lokal ke panggung yang lebih luas. Ke depan, JUWITA berharap dapat menghasilkan karya yang semakin matang, menggali lebih dalam potensi kopi dan budaya Sulawesi Tengah.

Andi Syaifullah
Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *