Koreksi Sejarah 44 Tahun Perjuangan Lingkungan di Tengah Ancaman Tambang dan Industri
Diksi.net, Palu – Tiga penggagas pendiri Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sulawesi Tengah (Sulteng), Natsir Abas, Alimudin Pa’ada, dan Arianto Sangadji, secara simbolis melakukan peletakan batu pertama pembangunan kantor organisasi di Jalan Garuda, Lorong Palapa II, Blok C7, Kota Palu, pada Rabu (15/10).
Acara ini dihadiri 18 lembaga mitra, termasuk Evergreen Indonesia, Solidaritas Perempuan Palu, JATAM Sulteng, serta 14 individu anggota jaringan WALHI Sulteng, menandai komitmen kuat dalam perjuangan keadilan ekologis.
Penggagas WALHI Sulteng, Natsir Abas, mengoreksi catatan sejarah resmi yang selama ini menyebut berdirinya organisasi di daerah ini pada 1992. Menurutnya, WALHI Sulteng sebenarnya telah eksis sejak 44 tahun lalu, tepatnya pada 1981.
“Saya ingat betul tahun 1982, WALHI Sulawesi Tengah sudah tercatat dalam SK Pemda sebagai seksi panitia kegiatan pameran pembangunan,” ujar Natsir. Ia menambahkan bahwa cikal bakal WALHI dimulai dengan keberhasilan mendatangkan Emil Salim untuk meresmikan Himpunan Pencinta Lingkungan Hidup (HPLH) Sulteng. “Saya bahkan pernah membagikan SK Gubernur sebagai bukti bahwa sejak 9 Desember 1981, kegiatan lingkungan sudah aktif. Itu penanda awal WALHI di sini,” lanjutnya.
Direktur Eksekutif WALHI Sulteng, Sunardi Katili, mengonfirmasi bahwa secara historis, organisasi ini resmi didirikan pada 1992, atau hampir 39 tahun lalu. Namun, koreksi Natsir ini menjadi pengingat penting atas akar perjuangan lingkungan yang lebih panjang di Sulawesi Tengah.
Pembangunan kantor permanen ini bukan hanya soal fasilitas fisik, melainkan simbol kemandirian WALHI Sulteng sejak 2021. Sunardi menekankan, kantor ini akan menjadi pusat informasi dan konsolidasi masyarakat menghadapi tantangan dari korporasi besar, seperti pertambangan, industri raksasa, dan proyek strategis nasional (PSN) yang sering kali merusak lingkungan dan mengancam masyarakat lokal.
“Sebagai contoh, di wilayah timur Sulawesi Tengah, kawasan terancam oleh pertambangan dan industri besar. Di Sigi dan Morowali, aktivitas tambang emas serta galian C di sekitar Kota Palu menambah kerumitan masalah,” jelas Sunardi. Ia menyoroti dampaknya tidak hanya pada ekosistem, tapi juga kesejahteraan kelompok rentan seperti nelayan, petani, dan buruh.
WALHI Sulteng berkomitmen memperjuangkan keadilan ekologis melalui advokasi isu lingkungan dan sosial. “Kami harap kantor ini memperkuat misi menjaga lingkungan untuk generasi mendatang,” pungkas Sunardi.
Acara peletakan batu pertama ini memperkuat jaringan WALHI dengan mitra-mitra strategis, siap menghadapi isu lingkungan terkini di Sulawesi Tengah. Dengan sejarah panjang perjuangan WALHI Sulteng, langkah ini diharapkan menjadi tonggak baru dalam perlindungan alam dan hak masyarakat.



