Gumbasa Tidak Kunjung Rampung, Sulteng Kehilangan Hasil Produksi Pertanian

waktu baca 2 menit
Pasca terjadinya bencan alam 2018 silam memberi dampak besar yang hingga saat ini masih dirasakan termasuk di sektor pertanian. Saluran irigasi Gumbasa merupakan salah satu sentral pertanian Sulawesi Tengah karena memiliki peran besar untuk mengari ribuan hektar lahan milik petani. (Foto : ist).

Diksi.net, Palu – Pasca terjadinya bencan alam 2018 silam memberi dampak besar yang hingga saat ini masih dirasakan termasuk di sektor pertanian. Saluran irigasi Gumbasa merupakan salah satu sentral pertanian Sulawesi Tengah karena memiliki peran besar untuk mengari ribuan hektar lahan milik petani.

Namun proses rehabilitasi yang tidak kunjung rampung menjadi kendali dan berdampak besar pada sektor pertanian, khususnya berpengaruh pada hasil produksi petani.

“Data awal yang kami peroleh dari Dinas TPHP Kabupaten Sig, luasan areal sawah oproduktif yang terdampak bencana pada 2018 lalu sekitar 8 ribu hektar. Data terakhir setelah adanya rehabilitasi jaringan irigasi gumbasa menunjukkan hasil positif,” ungkap Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tengah, Nelson Metubun, Rabu (10/01/2024).

BACA JUGA :  Bawaslu Palu Sosialisasikan Tentang Peraturan dan Non Peraturan

Ia berkata, setidaknya setelah adanya perbaikan jaringan irigasi 1000-an hektar lahan dapat kembali digunakan untuk tanaman pangan sebagai mana awalnya. Sebagai backup antara lahan yang terdampak dan lahan yang dapat difungsikan kembali, Kementerian Pertanian memberikan bantuan berupa benih, pupuk dan alat penunjang pertanian.

“pemberian bantuan tersebut dikarenkan Sigi dianggap sebagai daerah yang memiliki potensi namun terdampak bencana alam yang pada akhirnya mempengaruhi hasil produksi petani,” kata Nelson.

BACA JUGA :  Mentan SYL Minta Konsolidasi Ancaman Krisis Pangan

Nelson berujar, jika lahan seluas 8 hektar dalam 2 kali tanam dapat menghasilkan 32 ribu ton hasil produksi, angka tersebutlah yang menjadi kerugian petani dan pemerintah jika tidak dilakukan tindakan aksi nyata untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. 

“32 ribu ton hasil produksi dari 8 ribu hektar lahan pertanian yang terdampak menjadi kerugian Sulawesi Tengah dan akan turut berpengaruh pada ketersedian beras kita untuk Provinsi Sulawesi Tengah,” tuturnya.

BACA JUGA :  Anto Eks Napiter yang Kini Beternak dan Berkebun

Dampak lain yang turut dirasakan akibat tidak berfungsinya lahan pertanian seluas 8 ribu hektar dimulai dari kesejahteraan petani menurun, menurunya stok beras, dan keinginan Pemprov Sulteng untuk menjadi kawasan penyangga pangan akan turut terganggu. 

“Kami berharab rehabilitasi saluran irigasi gumbasa yang terganggu sejak 2018 dapat kembali berfungsi sebagai mana mestinya. Sehingga kehawatiran untuk kehilangan hasil produksi dapat teratasi dengan segera,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *