Festival Tampo Lore: Merajut Tradisi, Melestarikan Alam dan Menyambung Langit di Negeri Seribu Megalit

waktu baca 2 menit
nisiator Festival Tampo Lore Muhammad Subarkah mengikuti dialog Interaktif bersama Government Public Relations (GPR) TV Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. Bertempat, di Ruang Rapat Dinas Kominfo Santik Provinsi Sulawesi Tengah. (Foto : Istimewa).

Diksi.net, Palu – Inisiator Festival Tampo Lore Muhammad Subarkah mengikuti dialog Interaktif bersama Government Public Relations (GPR) TV Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. Bertempat, di Ruang Rapat Dinas Kominfo Santik Provinsi Sulawesi Tengah. Kamis, (6/6/2024). 

Dalam dialog tersebut, Subarkah menyampaikan bahwa Festival Tampo Lore merupakan Festival yang diadakan Masyarakat Tampo Lore yang mendiami tiga wilayah lembah, diantaranya Lembah Pekurehua, Lembah Behoa dan Lembah Bada. 

“Kami melihat banyak sekali potensi di wilayah Tampo Lore yang sangat berpotensi untuk dikembangkan. Baik dari sisi ekonomi kreatif, wisata, kebudayaan dan konservasi” ungkap Subarkah

Subarkah menyampaikan, Festival kali ini merupakan Festival Tampo Lore yang ketiga dan akan diadakan di Desa Hanggira, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso.

BACA JUGA :  KPU Sulteng Tetapkan Nomor Urut Paslon Gubernur dan Wakil Gubernur untuk Pilkada 2024

“Tahun ini Festival Tampo Lore dilaksanakan di Desa Hanggira, Kecamatan Lore Tengah, di situ terdapat Situs Megalit Pokekea” ujarnya. 

Lanjut Subarkah, untuk mendorong ekonomi kreatif bertumbuh, maka perlu ada sebuah event yang menyatukan semua pihak, salah satunya antara masyarakat adat agar tradisi yang ada sekarang dapat terus terjaga dan memberikan pengetahuan kepada masyarakat di Sulawesi Tengah, Nusantara dan Dunia. Sebab, wilayah Tampo Lore sudah dicanangkan sebagai Negeri Seribu Megalit.

“Adapun tema Festival Tampo Lore tahun ini adalah merajut tradisi dan melestarikan alam”, jelasnya 

BACA JUGA :  Kejari Parimo Eksekusi Oknum Brimob Terdakwa Asusila di Bawah Umur

Menurutnya, Festival Tampo Lore mendorong masyarakat yang menjadi tuan rumah dan masyarakat yang ada di Tampo Lore untuk terlibat aktif dan berpartisipasi dalam menunjukkan eksistensi kebudayaan masyarakat Tampo Lore. Mulai dari kerajinan, kuliner, keseninan, hingga musik.

“Yang menjadi salah satu poin di festival tahun ini, jadi kita melihat antara bintang, bulan dan benda langit lainnya yang dikaitkan dengan penghidupan masyarakat di Tampo Lore yang digambarkan dalam situs-situs Megalit,” ujar Subarkah.

Ia juga menuturkan bahwa Festival Tampo Lore terbuka secara umum bahkan kepada masyarakat internasional. Targetnya adalah, masyarakat setempat memiliki pendapatan ekonomi lebih.

Pembeda Festival Tampo Lore kali ini dengan yang sebelumnya, penyelenggara festival akan mengundang pakar arkeolog yang ada di Sulawesi Tengah untuk berkontribusi memberikan literasi kepada masyarakat publik agar mengetahui apa hubungan benda langit dengan manusia dan penyimbolannya antara Megalit dengan kehidupan Masyarakat Tampo Lore tempo dulu.

BACA JUGA :  Rusman Ramli kembali Dilantik sebagai Anggota DPRD Kota Palu Periode Ketiga

“Kami berterima kasih kepada Pemprov. Sulteng termasuk kawan-kawan di Dinas Kominfo Santik Provinsi Sulawesi Tengah, Dinas Pariwisata Sulteng dan Dinas Pariwisata Kabupaten Poso. Ini Menjadi salah satu bagian yg mesti dilanjutkan oleh berbagai pihak, sehingga kolaborasi itu penting agar festival ini bisa berkelanjutan dan memberikan manfaat kepada masyarakat setempat, pemerintah maupun masyarakat Nusantara” Tutup Subarkah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *