Eks Napiter Poso Dukung Satgas Madago Raya Cegah Radikalisme

waktu baca 2 menit
Diki Riski Kholid, mantan narapidana kasus terorisme di Poso. (Foto : ist).

Diksi.net, Poso – Diki Riski Kholid, mantan narapidana kasus terorisme di Poso, kini menjalani kehidupan baru sebagai warga biasa di Desa Labuan, Kecamatan Lage, Kabupaten Poso. Setelah bebas pada April 2023, ia aktif mendukung Satgas Operasi Madago Raya 2025 dalam upaya pencegahan penyebaran paham radikal dan intoleransi di wilayahnya.

Diki, yang dikenal dengan nama alias Kholid, sebelumnya terlibat dalam kasus terorisme terkait kelompok DPO Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso. Setelah menjalani hukuman, ia kembali ke rumah orang tuanya di Desa Labuan. Kini, ia fokus membantu keluarga dengan berjualan es doger, mengelola usaha kuliner ibunya yang menyajikan ayam geprek, ayam lalapan, gado-gado, dan bakso, serta merawat kebun keluarga di Desa Toyado, Kecamatan Lage.

BACA JUGA :  5,4 Triliun Rencana Belanja Daerah TA 2024

“Saya tidak ingin terlibat lagi dengan tindakan terorisme atau intoleransi. Pengalaman di penjara mengajarkan saya bahwa perbuatan itu hanya merugikan diri sendiri dan keluarga,” ujar Diki saat ditemui. 

Ia juga menegaskan komitmennya untuk fokus pada kehidupan produktif demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Diki merupakan alumni ketiga Program Pro-Posoku (Pendekatan Psikososial untuk Poso yang Lebih Kuat) periode 2024/2025. Program ini, diselenggarakan oleh Lembaga Penguatan Masyarakat Sipil (LPMS) bersama The Habibi Center (THC) dengan dukungan Sasakawa Peace Foundation (SPF), bertujuan meningkatkan kapasitas, kecakapan, dan keterampilan keluarga eks narapidana terorisme di Poso. Melalui program ini, Diki belajar untuk reintegrasi sosial dan membangun kehidupan yang lebih baik.

BACA JUGA :  Konser Iwan Fals di Padati Ribuan Penonton

Diki mengungkapkan rasa terima kasih kepada Satgas Madago Raya dan pihak kepolisian atas pendampingan yang diberikan. Ia berjanji mendukung kebijakan pemerintah dalam membangun Poso serta membantu menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). “Saya ingin wilayah Lage bebas dari paham radikal dan terorisme,” tegasnya.

Selain berjualan, Diki juga membantu ayahnya yang bekerja sebagai pekerja bangunan di Kalimantan. Di waktu luang, ia mengelola kebun keluarga untuk menambah penghasilan.

BACA JUGA :  Irhan Hana Bento: Dari Perencana Bom, Penjaga Keamanan, Berjuang Demi Keluarga

Kisah Diki menjadi inspirasi bahwa transformasi positif dimungkinkan melalui pendampingan dan kesempatan. Dengan dukungan komunitas dan program reintegrasi, eks narapidana terorisme dapat kembali menjadi bagian produktif dari masyarakat. Satgas Madago Raya terus berkomitmen untuk mencegah radikalisme, dan dukungan dari warga seperti Diki memperkuat upaya tersebut.

Moh. Sharfin
Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *