BI Sulteng : Awas Uang Palsu Ber-UV Stabilo

waktu baca 2 menit

Diksi.net, Ampana – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Tengah terus memperkuat edukasi masyarakat melalui kampanye Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah. Program ini menyasar peningkatan literasi masyarakat soal ciri-ciri keaslian uang, cara merawat uang dengan benar, hingga mekanisme resmi penukaran uang rusak.

Materi tersebut disampaikan Pelaksana Senior KPwBI Sulawesi Tengah, Khairul Rozeki, dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas Media Mitra di Ampana, Kabupaten Tojo Una-Una, Senin (3/8/2026).

Khairul menekankan untuk terus memperkuat sinergi kampanye CBP Rupiah bersama media dan masyarakat. Menurutnya, upaya ini bukan sekedar edukasi teknis, melainkan juga memperkuat pemahaman bahwa Rupiah adalah simbol kedaulatan negara yang harus dijaga bersama, sekaligus menjadi benteng dalam mencegah peredaran uang palsu.

BACA JUGA :  Mobil Ramah Lingkungan yang Nggak Bikin Kantong Bolong

Salah satu temuan penting yang disampaikan Khairul adalah masih banyak masyarakat yang salah saat memeriksa keaslian uang menggunakan sinar ultraviolet (UV). Kebanyakan warga hanya berpatokan pada satu titik yang menyala, padahal cara tersebut belum cukup untuk memastikan keaslian sebuah lembar uang.

“Pelaku kejahatan kerap memalsukan uang menggunakan tinta stabilo agar bersinar di bawah lampu UV. Namun, pendaran tersebut tidak presisi. Kami terus mengedukasi masyarakat tentang penggunaan sinar UV yang benar,” ujar Khairul.

Ia menjelaskan, Rupiah asli memiliki unsur pengaman khusus yang peringatan secara presisi di bawah sinar UV. Angka nominal di bagian belakang uang akan terlihat bersinar terang, tanda tangan pejabat Bank Indonesia memendar sempurna, dan peta Indonesia juga memendar dengan jelas serta presisi. Unsur ketiga ini, menurut Khairul, menjadi penanda paling mudah dikenal masyarakat awam untuk membedakan uang asli dan palsu.

BACA JUGA :  Gubernur Sulteng Tegaskan Pentingnya PAD dan Disiplin Pengawasan

Selain edukasi soal keaslian uang, BI juga mengampanyekan gerakan Merawat Rupiah lewat metode 5J, yakni jangan dibasahi, jangan dicoret, jangan distapler, jangan dilipat, dan jangan diremas. Gerakan ini bertujuan menjaga kualitas fisik uang agar masa edarnya lebih panjang dan tetap layak digunakan dalam transaksi sehari-hari.

Khairul juga mengimbau masyarakat untuk menukarkan uang rusak melalui layanan resmi Bank Indonesia, bukan melalui pihak tidak resmi. KPwBI Sulawesi Tengah membuka layanan penukaran uang setiap hari Selasa dan Kamis. Masyarakat wajib mendaftar terlebih dahulu melalui aplikasi PINTAR sebelum datang ke lokasi penukaran. Pendaftaran berani ini diberlakukan karena BI membatasi kuota harian sebanyak 15 orang per hari. Bagi warga yang telah mendaftar, penukaran uang rusak dapat dilakukan tanpa batasan nominal.

BACA JUGA :  Eks Napiter Poso Dukung Operasi Madago Raya

Melalui edukasi berkelanjutan ini, KPwBI Sulawesi Tengah berharap masyarakat semakin peduli menjaga kualitas fisik uang yang mereka pegang. Langkah ini sekaligus menjadi upaya jangka panjang untuk memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap mata uang Rupiah sebagai alat tukar sah dan simbol warisan bangsa.

Andi Syaifullah
Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *