BI Dorong Pengembangan Ekonomi Kreatif Lembah Behoa Melalui Workshop di Festival Tampo Lore

waktu baca 3 menit
BI berikan edukasi pada masyarakat tentang ekonomi kreatif pada masyarakat di festival tampo lore. (Foto : Istimewa).

Diksi.net, Poso – Bank Indonesia (BI) Palu turut ambil bagian dalam Festival Tampo Lore dengan menggelar workshop terkait pengembangan akses pasar dan keuangan bagi produk dan jasa masyarakat serta komunitas lokal di Lembah Behoa. Workshop ini bertujuan untuk mendorong ekonomi kreatif berbasis wisata, budaya, dan konservasi.

Perwakilan BI Palu, Ta’dir Eko Prasetia, menyatakan bahwa pengembangan akses pasar dan keuangan bagi pelaku usaha di desa wisata merupakan strategi penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

“Pelatihan dan edukasi sangat penting, seperti mengadakan pelatihan tentang manajemen usaha, pemasaran digital, dan literasi keuangan bagi pelaku usaha di desa wisata,” ujar Eko.

Ia juga menekankan pentingnya penggunaan teknologi dan media sosial untuk mempromosikan produk dan jasa. “Peningkatan infrastruktur juga krusial. Membangun atau memperbaiki infrastruktur dasar seperti jalan, jaringan internet, dan fasilitas publik akan mendukung aksesibilitas dan kenyamanan wisatawan,” tambahnya.

BACA JUGA :  SP2D Online Resmi Diterapkan di Banggai Laut

Eko menyoroti kondisi infrastruktur di lokasi wisata Pokekea yang perlu perhatian khusus. “Bagaimana para wisatawan mau berkunjung kembali ke tempat wisata jika jalan yang menuju tempat wisata tersebut rusak dan fasilitas di lokasi Pokekea ini tidak didukung dengan baik,” ujarnya di hadapan peserta workshop di situs Pokekea, Lembah Behoa, Lore Tengah, Kabupaten Poso.

Selain itu, Eko juga membahas pentingnya kolaborasi dengan pemerintah dan swasta untuk menyediakan dukungan finansial dan pemasaran. “Kami perlu menciptakan kemitraan dengan pemerintah daerah, lembaga keuangan, dan perusahaan swasta. Mengadakan pameran dan bazar yang melibatkan pelaku usaha desa wisata juga penting untuk memperluas jaringan pemasaran,” jelasnya. Eko juga menambahkan bahwa saat ini belum terlihat adanya kuliner khas atau produk unggulan dari Lembah Behoa yang bisa menjadi daya tarik wisata.

BACA JUGA :  Polresta, KPU, dan Bawaslu Kota Palu Kunjungi Sekretariat Partai Politik

Lebih lanjut, Eko menjelaskan pentingnya akses keuangan bagi pelaku usaha kecil di desa wisata. “Mendorong lembaga keuangan untuk menawarkan produk kredit mikro dan pinjaman dengan bunga rendah yang disesuaikan dengan kebutuhan pelaku usaha kecil di desa wisata sangat penting. Kami juga mengembangkan program tabungan dan asuransi mikro yang dapat diakses oleh pelaku usaha di desa wisata,” paparnya.

Workshop ini juga membahas pengembangan produk unggulan dan promosi branding desa wisata. “Membantu pelaku usaha mengidentifikasi dan mengembangkan produk unggulan yang memiliki daya tarik bagi wisatawan serta mendorong inovasi dalam produk dan layanan untuk meningkatkan daya saing sangat penting,” kata Eko.

BACA JUGA :  OJK Dukung Batas Suku Bunga Pinjol untuk Lindungi Konsumen

Ia menambahkan bahwa membangun branding desa wisata yang kuat dan konsisten serta menggunakan platform digital dan media sosial untuk promosi juga merupakan langkah strategis.

Terakhir, Eko menekankan pentingnya pendampingan dan monitoring berkelanjutan bagi pelaku usaha. “Pendampingan berkelanjutan sangat penting untuk memastikan mereka mampu mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh. Monitoring dan evaluasi secara berkala juga diperlukan untuk menilai efektivitas program dan melakukan perbaikan yang diperlukan,” tutupnya.

Dengan pendekatan terpadu yang melibatkan berbagai pihak, pengembangan akses pasar dan keuangan bagi pelaku usaha di desa wisata diharapkan dapat meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha, sekaligus mendukung pembangunan ekonomi lokal yang inklusif dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *