Napak Tilas Gunung Biru, Ratusan Eks Napiter Kembali ke NKRI

waktu baca 4 menit
Puluhan Eks napiter yang telah berikrar dan menyatakan kembali ke NKRI. (Foto : Andi Syaifullah).

Diksi.net, Poso – Gunung Biru yang terletak di Kabupaten Poso menjadi saksi, bahwa dimasa lalu sekelompok masyarakat yang anti NKRI serta memeliki paham ideologi yang berseberangan dengan pancasila.

Gugusan pengunungan yang luas terbentang, dengan vegetasi yang masih rapat dimanfaatkan oleh sekelompok masyarakat sebagai lokasi pelatihan ala militer, sebagai basis perlawanan kepada NKRI. 

Pada Jumat 16 Agustus 2024, 62 orang mantan narapidana teroris (napiter) berkumpul di Kaki Gunung Biru, tepatnya di Desa Pantangolemba, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Kabupaten Poso. Puluhan mantan napiter itu, kemudian membentakan bendera merah putih yang berukuran 15 x 20 meter, beberapa di antaranya juga terlihat memegang batang bambu yang di ujung telah terikat bendera merah putih.

Hal tersebut seakan menjadi simbol, bahwa mereka yang pernah berseberangan kini telah kembali ke pengharibaan ibu pertiwi.

Pembentangan bendera raksasa di Kaki Gunung Biru adalah agenda untuk memperingati HUT Kemerdekaan ke 79 Republik Indonesia. Polda Sulteng dan Satgas Madago Raya Polda Sulteng sebagai pelaksana kegiatan tersebut. Napak Tilas Kembali ke NKRI adalah tema dari serangkaian kegiatan yang akan dilaksanaka, dengan melibatkan puluhan eks napiter, simpatisan, dan Bhayangkara Tadulako Offroader (BTOF).

BACA JUGA :  Kaops Madago Raya Bagikan Makanan Bergizi dan Alat Tulis untuk Siswa di Poso

Kapolda Sulawesi Tengah, Irjen Pol Agus Nugroho berkata, pelaksanaan napak tilas jalur perlintasan teroris untuk mengingatkan kepada kita, bahwa di jalur-jalur tersebut pernah ada kelompok masyarakat yang anti NKRI. “ini dalah pengingat bagi kita bawah di jalur ini pernah ada sekelompok masyarakat yang anti NKRI. Walupun saat ini sudah tidak ada lagi”.

Komandan Satgas Operasi Madago Raya, Kombes Boy F Samola mengatakan, kegiatan napak tilas kembali ke NKRI yang melibatkan puluhan eks napiter tersebut merupakan bukti, bahwa situasi di Kabupaten Poso semakin kondusif setiap harinya.

Kata Mereka Yang Pernah Berseberangan namun Saat ini Telah Kembali

Puluhan eks napiter membentangkan bendera merah putih di kaki gunung biru. (Foto : Andi Syaifullah).

Salah satu agenda lainnya yang juga rangkaiang dari kegiatan Napak Tilas Kembali ke NKRI adalah menemui langsung ssejumlah eks napiter di kediamannya. Fitra Larata pentolan Jemaah Islamiyah (JI) mendapatkan kesempatan pertama dikunjungi langsung oleh rombongan Satgas Madago Raya. “Saya direkrut oleh ustas saya sejak awal 2000-an dan sejak itu saya terlibat berbagai aktivitas, hingga akhirnya diamankan pada tahun 2004 dan dinyatakan bebas pada 2007 silam,” ucapnya usai menancapkan benderah merah putih dihalaman rumahnya.

BACA JUGA :  Beragam Ancaman Intai Kelestarian Megalit

Eks napiter lainnya yang juga dikunjungi oleh Satgas Madago Raya Polda Sultenga adalah Iswadi larata yang merupakan anggota Kelompok Negara Islam Indonesia (NII). Ia bergabung karena dengan alasan pribadi melihat situasi Kabupaten Poso saat itu. “Saya bergabung di NII sejak tahun 2004 hingga 2007 pasca menjalani hukuman penjara.”

Keduanya kini telah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi dan melakukan aktivitas seperti masyarakat pada umumnya. Masyarakat di lingkungan sosialnya pun telah menerima kehadiran keduanya, walupun pada awal-awalnya masih berjarak namun seiring berjalanya waktu semakin baik.

Persinggahan Kelompok Masyarakat Bersenjata Kala Itu

Musholah yang menjadi tempat pembaiatan ratusan anggota kelompok masyarakat bersenjata. (Foto : Andi Syaifullah).

Selama masa beroperasinya JI hingga Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso, sejumlah tempat di kawasan gunung biru dan sekitarnya kandangkala menjadi termpat persinggahan. 

Beberapa persinggahan kelompok bersenjata tersebut, terletak di Dusun Tamanjeka, Desa Masani. Dusun Tamanjeka dahulu dikenal sebagai wilayah basis pergerakan Kelompok JI hingga MIT Poso. Lantaran pentingnya peranan Dusun tersebut, Satgas Madago Raya yang terdiri dari Kepolisian dan TNI kala itu mendirikan Pos Komando Taktis (Poskotis) yang dijaga  1×24 jam.

BACA JUGA :  Wapres dan Menko Polhukkam Berharap Tidak Ada Kursi Melayang

Persinggahan lainnya, terletak di Dusun Uwe Lempe, Desa Towu, letaknya yang berbatasan langsung dengan kebun masyarakat dan hutan menjadi salah satu tempat strategis bagi kelompok MIT Poso untuk mendapatkan suplai dan logistik tambahan selama bergeriliah di kawasan gunung biru.

Tempat lainnya yang menjadi lokasi sangkral bagi kelompok mereka adalah Mushola peninggalan Santoso yang terletak di dalam hutan, jauh dari kehidupan masyarakat Desa. Mushola tersebut, diperuntukkan untuk pelaksanaan kegiatan baiat bagi anggota kelompok. Setidaknya masa itu, ratusan anggota telah mengucapkan janji setia di mushola tersebut. Mushola yang terletak dari Desa Kawende, Kecamatan Poso Pesisir itu dibangun sekitar tahun 2015.

Tempat penting lainnya yang juga sempat dikunjungi adalah air terjun yang terletak di Desa Kilo, lokasi tersebut beberapa kali Santoso dan anggota kelompoknya singgah untuk mandi bahkan latihan tembak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *