Pencanangan Sulawesi Tengah Negeri Seribu Megalit: Menyelusuri Keberadaan Peradaban Kuno
Diksi.net, Palu – Wakil Ketua III DPRD Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), Muharram Nurdin, bersama Ketua Komisi IV, Dr Ir Alimuddin Pa’ada, menghadiri acara pencanangan “Sulawesi Tengah Negeri Seribu Megalit” di Lembah Bada, Desa Kolori, Kecamatan Lore Barat, Kabupaten Poso, pada Selasa (10/10).
Muharram Nurdin menyatakan bahwa kegiatan ini adalah inisiatif dari Gubernur Sulteng yang layak diapresiasi.
Menurut Wakil Ketua III DPRD Sulteng, pencanangan ini bukan hanya simbolis, melainkan juga sebagai wujud sikap gubernur dalam menyampaikan kepada dunia bahwa peradaban tertua berasal dari Sulteng, dengan keberadaannya seumur hidup pada zaman Nabi Musa atau 3.000 tahun sebelum masehi.
Masyarakat Sulteng diharapkan bangga memiliki peradaban kuno yang tetap dilestarikan hingga saat ini.
Gubernur Sulteng, Rusdy Mastura, menjelaskan bahwa jejak budaya suku bangsa, yang telah berabad-abad, akan meninggalkan warisan baik berupa benda hasil karya manusia (tangible) maupun nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat (intangible).
Peninggalan arkeologis di kawasan cagar budaya Lore-Lindu mencapai 2007 buah, tersebar di 118 situs di empat kawasan berbeda, termasuk Lembah Bada, Lembah Behoa, Lembah Napu, dan Lembah Palu Lindu.
Gubernur mengungkapkan bahwa Sulawesi Tengah adalah tempat di mana alam dan budaya bersatu dengan indahnya.
Di antara kekayaan alamnya, ribuan situs megalitik menjadi bukti kemajuan peradaban masa lalu.
Pencanangan “Sulawesi Tengah Negeri Seribu Megalit” menjadi langkah berani untuk menjadikan megalitik sebagai identitas, warisan budaya, dan daya tarik wisata, dengan harapan memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan dan meningkatkan prestise Sulteng.
Gubernur mengajak semua pihak untuk menjaga dan melestarikan “harta karun” ini dengan kebanggaan, untuk memastikan manfaatnya bagi masa depan dan generasi mendatang.
Pencanangan dihadiri oleh pihak Kemendikbudristek, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, bupati, wali kota, unsur Forkopimda, dan tokoh-tokoh dari kawasan Lembah Bada dan Kabupaten Poso.



