Project InnerSpace Rilis Laporan Potensi Besar Panas Bumi Indonesia

waktu baca 3 menit
Fabby Tumiwa, Chief Executive Officer (CEO) IESR.

Diksi.net, Jakarta– Project InnerSpace pada Selasa (2/12) merilis laporan komprehensif berjudul The Future of Geothermal in Indonesia. Laporan tersebut mengungkap bahwa Indonesia, dengan sumber daya panas bumi konvensional yang sangat besar serta keahlian teknis domestik yang kuat, berpotensi memperluas pemanfaatan panas bumi ke teknologi generasi terbaru, termasuk panas industri dan sistem pendinginan terpusat (district cooling). Pemanfaatan tersebut dinilai mampu menyediakan pasokan listrik yang andal, energi kompetitif untuk industri dan pusat data, meningkatkan kualitas udara, sekaligus memperkuat rantai pasok dan tenaga kerja nasional.

Energi panas bumi merupakan panas alami yang tersimpan dalam kerak Bumi. Kemajuan teknologi pengeboran dan eksplorasi kini membuat pengembangan panas bumi semakin terjangkau, termasuk di wilayah yang sebelumnya dinilai tidak ideal. Di Indonesia, negara dengan potensi panas bumi terbesar di dunia yang membentang di sepanjang Cincin Api Pasifik kemajuan teknologi ini menjadi sangat penting. 

Laporan Project InnerSpace memproyeksikan bahwa Indonesia memiliki potensi teknis panas bumi hingga 2.160 gigawatt (GW), jauh melampaui estimasi sumber daya hidrotermal saat ini. Pemanfaatan optimal potensi tersebut diperkirakan dapat memenuhi 90 persen kebutuhan panas proses industri manufaktur serta mengurangi ketergantungan pada batu bara dan bahan bakar impor, sekaligus menciptakan lebih dari 650.000 lapangan pekerjaan.

BACA JUGA :  Danai PLTU US$ 1,27 M, Komitmen Bank Mandiri Dukung Transisi Energi Indonesia Diragukan

“Indonesia sudah menjadi pemimpin dunia dalam pengembangan panas bumi hidrotermal. Keahlian panjang di sektor minyak, gas, dan panas bumi memberi Indonesia modal teknis untuk memimpin fase berikutnya, yakni pendinginan berbasis panas bumi, panas industri, dan listrik dari sistem generasi terbaru,” ujar Jackson Grimes, Direktur Keterlibatan Global Project InnerSpace.

Ia menambahkan, modernisasi regulasi panas bumi dan perluasan fokus pemanfaatan tidak hanya untuk pembangkitan listrik dapat membuka ribuan megawatt energi rendah emisi baru, memperkuat daya saing industri, serta meningkatkan ketahanan energi nasional.

Fabby Tumiwa, CEO Institute for Essential Services Reform (IESR), menjelaskan bahwa sistem panas bumi generasi terbaru tidak bergantung pada reservoir bawah tanah alami, sehingga dapat dikembangkan di lebih banyak lokasi. 

BACA JUGA :  Kemasan dan Sertifikasi Jadi Nilai Tambah Produk UKM

“Dengan teknologi ini, isu klasik panas bumi konvensional seperti lokasi yang sering berada di kawasan lindung atau dekat permukiman dapat dihindarkan. Energi panas bumi bisa menghasilkan panas atau listrik langsung di lokasi yang membutuhkan, termasuk untuk kepentingan masyarakat,” ujarnya.

Kemajuan teknologi pengeboran dan konstruksi sumur memungkinkan panas bumi generasi terbaru mengakses sumber panas di luar reservoir tradisional, menyediakan listrik andal, panas industri, serta pendinginan terpusat. Memperluas kerangka regulasi panas bumi Indonesia untuk mencakup aplikasi tersebut dinilai penting untuk mempercepat transisi energi, mengurangi ketergantungan pada PLTU batu bara, dan memperkuat ketahanan energi jangka panjang.

Laporan itu juga menyoroti peran panas bumi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, terutama untuk menekan biaya, meningkatkan keandalan jaringan, dan mendorong pembangunan regional.

Project InnerSpace mengusulkan sejumlah langkah strategis, antara lain:

  • Memperbarui definisi dan kerangka perizinan panas bumi untuk memasukkan sistem generasi terbaru, pemanfaatan panas langsung, dan district cooling.
  • Menetapkan target nasional pemanfaatan listrik dan panas industri berbasis panas bumi beserta peta jalannya.
  • Membentuk “jalur cepat panas bumi” untuk mempercepat proses perizinan dan koordinasi lintas kementerian.
  • Mereformasi skema royalti panas bumi agar manfaatnya lebih langsung dirasakan masyarakat.
  • Memperluas program pelatihan dan sertifikasi teknis untuk memanfaatkan keahlian sektor minyak dan gas bagi pengembangan panas bumi.
BACA JUGA :  Deklarasi Poso dan Palu Jamaah Islamiyah Akhiri Perjalanan 31 Tahun dengan Ikrar Setia pada NKRI

“Indonesia memiliki para geosaintis, teknisi pengeboran, serta kapasitas teknis yang dibutuhkan untuk memimpin transformasi panas bumi global,” tambah Grimes. 

Dengan dukungan kebijakan dan investasi yang tepat, cadangan panas bumi Indonesia dapat menjadi sumber kemakmuran, kemandirian, dan ketahanan energi jangka panjang.

Sebagai tindak lanjut dari temuan penting mengenai potensi besar pendinginan berbasis panas bumi, Project InnerSpace akan mendanai studi kelayakan di Universitas Gadjah Mada untuk mengevaluasi proyek pendinginan kampus berbasis panas bumi. Jika berhasil, program tersebut akan dilanjutkan melalui skema pendanaan GeoFund.

Andi Syaifullah
Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *