Eks Napiter Poso Isran Kini Dukung Penuh Satgas Madago Raya Lawan Radikalisme
Diksi.net, Poso – Isran alias Donding (52), mantan narapidana terorisme (napiter) asal Desa Masamba, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, kini memilih jalan baru sebagai petani dan pekerja proyek. Setelah bebas bersyarat pada 13 November 2017, ia menyatakan tekad kuat untuk tidak kembali ke lingkaran radikal dan justru mendukung penuh Satgas Operasi Madago Raya dalam mencegah penyebaran paham radikal di Poso.
Isran ditangkap pada 3 Maret 2015 di kampung halamannya karena terlibat tindak pidana terorisme. Ia divonis 3 tahun 6 bulan penjara, menjalani hukuman di Mako Brimob Depok sebelum dipindahkan ke Lapas Kelas II B Luwuk, Sulawesi Tengah. Setelah bebas, ia kembali ke Desa Masamba dan kini hidup sederhana sebagai petani sawah.
“Sekarang saya fokus bertani padi dan sebentar lagi akan menanam 1.000 pohon kakao. Bibitnya sudah ada di samping rumah, sedang dikarantina,” ujar Isran saat menerima kunjungan silaturahmi Satgas Madago Raya di kediamannya, Rabu (26/11/2025).
Selain bertani, Isran dipercaya sebagai pengawas lapangan proyek infrastruktur oleh salah satu anggota DPRD Kabupaten Poso, termasuk mengurus kebutuhan solar untuk alat berat excavator. “Pekerjaan proyek hanya sementara, yang pasti saya ingin hidup tenang bersama keluarga,” tegasnya.
Ditemui di teras rumah sederhananya, Isran mengucapkan terima kasih kepada Satgas Madago Raya yang menyambangi dirinya. “Terima kasih sudah datang. Saya berharap komunikasi ini terus terjaga demi menjaga keamanan Poso,” katanya.
Ia menegaskan bahwa komunikasi dengan mantan teman-teman seperjuangan yang masih berpaham radikal atau eks napiter lain di wilayah Poso Pesisir, Poso Pesisir Utara, dan Poso Kota masih ada, namun hanya sebatas urusan pekerjaan atau bisnis. “Saya sudah kapok. Tidak akan lagi terpengaruh ajakan melakukan tindak pidana terorisme. Itu hanya merugikan diri sendiri dan keluarga,” ungkapnya dengan nada tegas.
Isran juga menyatakan siap membantu aparat kepolisian, khususnya Satgas Madago Raya Tahun 2025, dalam program deradikalisasi dan pencegahan paham intoleran yang kini marak menyebar melalui media sosial.
“Saya mendukung penuh Operasi Madago Raya. Saya siap membantu menjaga kamtibmas dan mencegah paham radikal berkembang lagi di Poso, terutama di kalangan anak muda,” janjinya.
Kunjungan Satgas Madago Raya ke eks napiter seperti Isran menjadi bagian dari strategi soft approach dalam operasi pemulihan keamanan di Poso. Pendekatan humanis ini diharapkan memperkuat rasa memiliki terhadap NKRI dan mencegah kambuhnya sel-sel radikal di wilayah yang pernah menjadi pusat konflik dan terorisme tersebut.
Kisah Isran menjadi bukti bahwa proses deradikalisasi dan reintegrasi sosial dapat berhasil jika didukung kesadaran dari dalam diri mantan pelaku serta pendampingan berkelanjutan dari aparat keamanan dan masyarakat.



