Diskusi Orang Muda: Krisis Iklim, Deforestasi dan Hilangnya Budaya Luhur

waktu baca 2 menit
Maya Safitri, Ketua Prmuda Pelajar Mahasiswa Modowali Utara dan Ramadhani, Koordinator Riset Jatam Sulteng. (Foto : Andi Syaifullah).

Diksi.net, Palu – Orang muda Kota Palu yang tergabung dalam kelompok muda bersuara melaksanakan diskusi publik, mebgankat tema “Setelah Nikel, Apa?.

Diskusi ini sebagai respon maraknya pertambangan nikel di Sulawesi Tengah yang kian tahun terus mengalami penambahan, baik dari luas wilayah konsesi maupun perusahaan yang melaksanakan operasi.

Morowali Utara menjadi salah satu Kabupaten dengan kandungan nikel yang cukup melimpah di Sulawesi Tengah, sehingga menarik bagi investor untuk melakukan operasi mengeruk kemudian mengolah dan menjadikan nikel hasil operasi beragam produk.

BACA JUGA :  DPRD Sulteng Gelar Uji Publik Raperda PKSD dalam Peningkatan Kesejahteraan dan Pelayanan Publik

“Setelah adanya perusahaan, tidak hanya iklim dan lingkungan yang terkena dampaknya. Tapi juga mempengaruhi pendidikan dan adat istiadat yang ada di Morowali Utara,” tutur Maya Safitri, Ketua Pemuda Pelajar Mahasiswa Modowali Utara.

Ia juga mengungkapkan, sebelum ada perusahaan kami masih melihat embun saat pagi, tidak ada suara bising perusahaan, ataupun debu.

“Saat ini di  daerah kami sudah mulai panas, berdebu dan cukup bising,” ucapnya.

Sebagian besar orang muda Morowali Utara, kata Maya, hanya berharap untuk menjadi pegawai perusahaan. Selain itu, kebanyakan orang muda sekarang tidak lagi memahami bahasa daerah nya.

BACA JUGA :  Eks Napiter di Poso Tekad Bantu Ciptakan Keamanan dan Cegah Radikalisme

“Anak muda sekarang tidak lagi begitu paham bahasa daerah mereka karena lebih sering menggunakan bahasa yang umum ketimbang bahasa daerah mereka,” ungkap nya lebih lanjut.

Sementara itu, Ramadhani, Koordinator Riset Jatam Sulteng, menjelaskan bahwa operasi tambang nikel menghilangkan kawasan hijau, dan turut memberikan sumbangsi atas terjadinya krisis iklim yang kian terasa hari ini.

“Sebagai orang muda kita harus paham atas peristiwa krisis iklim yang terjadi hari ini. Karena dampaknya tidak haya dirasan oleh Morowali Utara saja,” ucapnya.

BACA JUGA :  Apel Gelar Pasukan, 1.747Personil Siap Kawal Kunker Wapres RI

Massifnya aktivitas tambang manghasilkan karbon di udara yang merusak lapisan ozon sehingga panas matahari kian terasa. Lebih buruk lagi, pohon yang berfungsi sebagai penetralisir korbon juga turut dibabat habis.

“Karena peristiwa deforestasi yang terjadi di Morowali Utara hari ini juga turut dirasan masyarakat Kota Palu. Matarahi yang kian terasa menyengat merupakan dampak dari kerusakan kawasan hutan yang kian ekstraktif,” jelas Dani.

Andi Syaifullah
Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *