Dilema Masyarakat Toraja dan Pelestarian Gajah Sumatera

waktu baca 2 menit
Sesi diskusi yang dilaksanakan pada saat Fesmed 2025 di Makassar. (foto : Dok Fesmed AJI).

Diksi.net, Makassar – Festival Media (Fesmed) 2025 yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Makassar menghadirkan diskusi bertajuk Ritual dan Rasa: Reaksi Masyarakat Adat dengan Pangan dan Energi. Diskusi ini menyoroti dampak modernisasi terhadap tradisi masyarakat adat di Toraja serta upaya pelestarian lingkungan bagi masyarakat adat dan satwa liar di Bukit Tigapuluh, Sumatera.

Eko Rusdianto, Grantee Pulitzer Center, memaparkan bagaimana modernisasi mengubah simbolisme dan tradisi di Toraja, Sulawesi Selatan. Ia menyoroti ukiran ayam pada Tongkonan (rumah adat Toraja) yang sarat makna spiritual. “Ayam menghadap barat melambangkan hubungan dengan Tuhan, sementara ayam koro menghadap timur melambangkan kehidupan. Namun, modernisasi mulai mengikis makna ini,” ungkap Eko.

BACA JUGA :  Jurnalis Sulteng Selenggarakan Festival Media 2022

Salah satu tradisi yang terdampak adalah Bulu Londong, ritual adu ayam yang dahulu berfungsi sebagai hiburan dalam upacara kematian sekaligus penyelesaian sengketa tanah tanpa kekerasan. Pemenang aduan menentukan hak atas tanah, dan ayam yang kalah dimakan bersama. Namun, masuknya ayam impor dari Filipina dan Peru telah menggeser penggunaan ayam lokal.

“Dulu, ayam lokal adalah inti ritual. Kini, ayam ras yang lebih murah, sekitar Rp40.000–Rp50.000 per ekor, mendominasi, membuat ayam lokal semakin langka,” jelas Eko. Fenomena ini juga terlihat pada ritual penyembelihan ayam kaliabo di Makale, Toraja, di mana ayam besar berkaki kuning kini tergantikan oleh ayam kecil akibat keterbatasan pasokan.

BACA JUGA :  Sejumlah Band Lokal Ramaikan Fesmed 2022

Diskusi juga menghadirkan perspektif pelestarian lingkungan melalui inisiatif PermataHati dari Permata Bank. Head CSER Permata Bank, Hanggoro Seno, memaparkan upaya pelestarian habitat Gajah Sumatera di Bukit Tigapuluh, salah satu kawasan terakhir bagi satwa langka ini.

“Dalam 25 tahun terakhir, 70 persen hutan Sumatera hilang, menyebabkan populasi Gajah Sumatera merosot hingga tersisa sekitar 120 ekor di Bukit Tigapuluh,” ujar Hanggoro. Kawasan ini juga menjadi rumah bagi 221 jiwa masyarakat adat yang hidup berdampingan dengan satwa liar, seperti harimau dan beruang, di tengah ancaman deforestasi.

Permata Bank berkomitmen melindungi ekosistem Bukit Tigapuluh untuk mendukung keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat adat. Inisiatif ini menunjukkan pentingnya keseimbangan antara pelestarian budaya, lingkungan, dan kehidupan satwa liar.

BACA JUGA :  Dakwaan Dipersoalkan, Eksepsi Diajukan, Penangguhan Penahanan Dimohonkan

Diskusi ini menggarisbawahi dilema masyarakat adat dalam menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi. Tradisi seperti Bulu Londong dan pelestarian lingkungan di Bukit Tigapuluh mencerminkan tantangan besar: bagaimana menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan pelestarian warisan budaya dan ekosistem.

Fesmed 2025 menjadi wadah penting untuk merangkai solusi, menggugah kesadaran, dan mendorong kolaborasi lintas sektor demi menjaga kelangsungan tradisi adat dan lingkungan hidup. Diskusi ini mengajak masyarakat untuk merenung: bagaimana modernisasi dapat berjalan tanpa menghapus akar budaya dan keberlanjutan alam?

Andi Syaifullah
Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *