Karhutla Picu Ratusan Ribu Kasus ISPA, IDAI Imbau Orangtua Lindungi Kesehatan Pernapasan Anak

waktu baca 4 menit
Signature: ErlYyshL8nprd16hrYJBWK41a7puYWaCBBBbrb3uEMH/EDeQPoTHuGEbBEuFYBQCI6RWIt2flk53wQ1HlCSP4RbyqGIsAiXlOJUamow3ro6BUThBtte32E9xFuerEfjdi5xB/43Rv0Hher8dHjbQQfCXH15wHMEArMhFPGo/WkngFLBK6Fb7aZnw6Tpn62/s/WM2M/qeBvnZl3scK52osVt3eZj7LplFgN+J1KXMAlPkOl5UqIGV7BM859Np8tzm7hJZ+QRcUIoL5pRcPijhWdz4Ww8ERMJ/CszfuRtdoePmLQdkJTwvEwItiw8kIgXlfPtyOVYUwCJ60aZGznfBSTT00L55I4A74dgP3WBKElF2xMTxktKUCXTBB+Gjz38umaM0xnw19EoZwYNN6N6rOy84iZeSrKPd8D/ZEf84vYcUzAHn+nZTcn+3j7RgxGlKuy3Lu+u6BRLjzMS1QH0uk6jjA2TQG9pqyBJOlgn26T0AtU3uxkP6HSM/hBgR7fO+NwcGBCHwjkDbZDDyRCnDfF/DrqeGMcXbY12YTdUzhVQnECUVpAZ3/btKscqopV7WVauczTWeH7I5X9aKD8YCSjuL6KlyCvPlXkWGuuRLfy2do2Vl0Yz2oo4cBif565lvmTKT+dyLKwOiQndIz1lYOfmBY8AbP5WD2/R9IPnUV/MXfPcM3Zl5zQ80rga/dX84IkouYjoY5Lj91SUmwqbTf802hXy6OU/GaTslorhYQLdWcFjMNd4oaoo2CP7xz8VWk03DL0OYmgStOeDHrq9zAKqhW7YdesuKW/4GL/33eEkXD02R6NqunYxHksbo+k2PN1OKtqXRtvI4EJ/+9Mr9zLQYEUE9JcIC1ItcZVnNmLJZYOIYgFqmTLJ+rK0qaNivlYVcqmc4nIALPequbREAFElqCUbQWSj+J1H4n7bYCvbQ5WekOmafyjjdWFsizEjVtZKnLhBD4WzVtbVaHytVvklGIKdZ6bMMj3qlLLFOrHE=

Diksi.net, Jakarta – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat telah memicu ASEAN menetapkan status Siaga Alert Level 3 sejak 26 Agustus 2026. Kementerian Kesehatan RI mencatat 113.336 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat karhutla hingga 9 September 2026 di tujuh provinsi terdampak, termasuk 26.545 kasus pada balita.

Di Riau, tercatat 10.783 kasus ISPA pada Agustus–September 2026, dengan jumlah terbanyak pada anak usia 0–9 tahun. Kalimantan Selatan melaporkan 524 kasus pneumonia selama periode kemarau dan karhutla, sementara RS Bhayangkara Pontianak mencatat kenaikan kasus ISPA dan pneumonia sebesar 10–20 persen sejak karhutla di Kalimantan Barat.

Menanggapi situasi ini, Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), DR Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio(K), menyatakan keprihatinannya. Menurutnya, karhutla bukan sekadar bencana lingkungan, melainkan juga darurat kesehatan anak dan kelompok rentan.

“Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 yang sangat berbahaya bagi saluran pernapasan anak. Partikel ini dapat menembus jauh hingga ke saluran napas bagian bawah, bahkan diserap masuk ke aliran darah. Anak-anak adalah kelompok paling rentan karena mereka menghirup lebih banyak udara relatif terhadap berat badannya, serta sistem pernapasan dan imunnya yang masih berkembang,” jelasnya.

BACA JUGA :  14 Kandidat Presidium MN Forhati

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, Dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi(K), menambahkan bahwa PM2.5 dari asap kebakaran hutan bisa hingga 10 kali lebih berbahaya bagi pernapasan anak dibanding sumber lain karena komposisi kimianya memiliki potensi oksidasi dan pro-inflamasi lebih tinggi. Dampak terbesar terutama pada anak di bawah 5 tahun.

Meta-analisis menunjukkan setiap kenaikan 10 µg/m³ PM2.5 akibat kebakaran hutan berasosiasi dengan peningkatan sekitar 6 persen rawat inap karena asma dan 7 persen kunjungan IGD terkait asma. Asap karhutla juga dapat memicu eksaserbasi akut pada asma, bronkiektasis, dan penyakit paru kronik lainnya. Anak dengan penyakit jantung bawaan atau riwayat displasia bronkopulmonal termasuk kelompok berisiko tinggi.

Karhutla menghasilkan kabut asap tebal yang dapat mencemari udara hingga ratusan kilometer dari sumbernya. Asap tersebut mengandung partikel halus PM2.5 dan PM10 serta gas berbahaya seperti karbon monoksida. Kondisi tahun ini diperparah oleh fenomena El Niño dan kekeringan yang meluas, termasuk terbakarnya lahan gambut tropis yang sulit dipadamkan.

Untuk melindungi anak, UKK Respirologi IDAI merekomendasikan orang tua memantau kualitas udara lokal (AQI atau ISPU) secara rutin. Disarankan menyiapkan ruang bersih di rumah dengan sedikit jendela dan pintu, dilengkapi alat pembersih udara portabel. Selama kabut asap, anak sebaiknya tetap di dalam rumah dengan pintu dan jendela tertutup. Jika menggunakan AC, atur mode recirculation agar tidak menarik udara luar.

BACA JUGA :  Ina Tobani Penjaga Warisan Kain Kulit Kayu Berusia 4.000 Tahun 

Orangtua juga diminta menjaga kualitas udara dalam rumah dengan menghindari rokok, kompor kayu, lilin, semprotan aerosol, dan aktivitas yang menghasilkan asap. Aktivitas fisik berat di luar ruangan perlu dibatasi saat udara berasap. Bagi anak usia 2 tahun ke atas yang harus keluar rumah, gunakan masker dan kacamata. Anak dengan asma atau kondisi kronis harus selalu membawa obat rutin, termasuk obat pereda cepat. Segera cari bantuan medis jika anak mengalami kesulitan bernapas, sangat mengantuk, atau menolak makan dan minum.

Terkait pembelajaran di sekolah, IDAI merujuk Rekomendasi IDAI No. 011/Rek/PP IDAI/X/2015 dan Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 20 Tahun 2026. Moda pembelajaran ditentukan berdasarkan nilai ISPU harian yang dipantau minimal dua kali sehari. Pada ISPU 1–50 (Baik), pembelajaran tatap muka berjalan normal. Saat ISPU 51–100 (Sedang), aktivitas luar ruangan dibatasi. Pada ISPU 101–200 (Tidak Sehat), kelompok rentan diarahkan belajar dari rumah. ISPU 201–300 (Sangat Tidak Sehat) mewajibkan seluruh peserta didik beralih ke Pembelajaran Jarak Jauh, sedangkan ISPU di atas 300 (Berbahaya) mengharuskan pembelajaran jarak jauh sepenuhnya.

BACA JUGA :  Waspada Proposal Palsu Mencatut IJTI Sulteng

Perubahan moda pembelajaran berlaku paling lama tiga hari dan dievaluasi setiap hari. Penghentian tatap muka tidak berarti libur sekolah, karena hak peserta didik atas layanan pembelajaran tetap harus dipenuhi, baik melalui modul cetak, penugasan mandiri, maupun pendampingan orang tua. Satuan pendidikan dapat memanfaatkan dana BOSP untuk mendukung pengadaan modul, masker, dan alat penjernih udara.

IDAI mengimbau orang tua dan masyarakat tidak menunda mencari pertolongan medis jika anak menunjukkan gejala gangguan pernapasan. “Kesehatan anak adalah prioritas utama. Jangan ragu segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat jika muncul gejala sesak napas, batuk berkepanjangan, atau penurunan kesadaran. Pencegahan dan deteksi dini adalah kunci,” tegas Dr. Piprim.

Dr. Wahyuni menambahkan, “Kami mengajak semua pihak—orang tua, guru, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah—untuk bersinergi melindungi anak-anak Indonesia dari bahaya asap karhutla. Pantau kualitas udara secara berkala dan pastikan anak-anak kita tetap aman serta sehat.”

Andi Syaifullah
Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *